Menyusuri Gang Senggol demi Data: Kisah Nata dan Rosita di Panggung Sensus Ekonomi 2026

6 hours ago 4

Jakarta - Menjadi petugas sensus bukanlah perkara mudah. Di pundak para tunas muda inilah, akurasi data ekonomi masa depan bangsa dipertaruhkan. Mereka harus siap berhadapan dengan beragam karakter masyarakat di lapangan.

Di bawah sengatan terik matahari Jakarta, Nata menyusuri lorong-lorong sempit di kawasan permukiman padat. Dari sembilan RT yang harus ia datangi di tingkat kelurahan, tidak semua wilayah mudah dijangkau. Medan yang dihadapi sangat kontras, mulai dari gang senggol hingga kompleks perumahan elite dengan pagar menjulan

Sembari melempar senyum, Nata menceritakan dinamika yang ia temui di lapangan. Respon warga diakuinya sangat beraga

"Ada yang menerima dengan baik, tetapi ada juga yang kurang berkenan atau sedikit mengeluh dengan alasan sibuk. Tantangan seperti ini umumnya kami temui di kawasan perumahan, " ujar Nata sambil menghela napas panjan

Bagi Nata, ini adalah pengalaman pertamanya terjun langsung sebagai ujung tombak pengumpul data. Namun, ia tidak sendirian. Siang itu, usai menunaikan ibadah salat Zuhur di sebuah masjid di Jakarta Timur, Nata tampak berbincang dengan rekan sejawatnya, Rosita. Dua mahasiswi Sekolah Tinggi Ilmu Statistik (STIS) ini mengemban tugas di wilayah yang berbeda; Nata di Duren Sawit, sedangkan Rosita di Pondok Bamb

"Dalam bertugas, kami didampingi oleh kader Dasawisma dari RT setempat untuk mendatangi rumah warga, " kata Rosita. Bagi Rosita, kunci utama menghadapi penolakan dari responden adalah kesabaran. Padahal, menurut mereka berdua, Sensus Ekonomi ini sangat krusial untuk memetakan arah kebijakan negara ke depa

Di tengah kibaran bendera Merah Putih yang menghias jalanan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI, kedua mahasiswi ini terus melangkah. Mereka keluar masuk permukiman demi mengumpulkan data yang akurat demi pembangunan ekonomi nasiona

Dukungan Penuh dari Pemerintah Kota

Penyelenggaraan Sensus Ekonomi 2026 (SE2026) ini mendapat perhatian serius dari jajaran pemerintah daerah. Di Jakarta Timur, pencanangan dan pelepasan petugas secara simbolis ditandai dengan pemakaian rompi dan pengalungan nama peserta oleh Walikota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, di halaman Kantor Walikota Jakarta Timur pada Rabu (24/6/ 2026

"Semua masyarakat yang didatangi oleh petugas sensus ekonomi agar diterima dengan baik, dan sampaikan data yang sebenarnya. Tidak ada yang ditutup-tutupi, sampaikan apa adanya, ” tegas Munjiri

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Jakarta Timur, Widiastuti, memaparkan bahwa pihaknya mengerahkan 1.812 petugas. Jumlah tersebut terdiri dari 1.609 pendata lapangan dan 203 pengawas lapan

Sementara itu, pergerakan masif juga terjadi di wilayah administrasi lain. Di Jakarta Utara, petugas melakukan pendataan membentang dari Kecamatan Penjaringan hingga Kecamatan Cilincing dengan kekuatan 1.161 petug

Untuk memastikan kualitas data, kegiatan ini dibarengi dengan supervisi ketat oleh pegawai organik BPS Kota Jakarta Utara demi menjaga kepatuhan terhadap prosedur standar

Di sisi lain, Jakarta Barat turut memperkuat barisan dengan menerjunkan 1.648 petugas, disusul wilayah Jakarta Selatan dan Jakarta Pusat yang juga mengerahkan ribuan petugas terlati

Ujung Tombak Kebijakan Masa Depan

Secara nasional, Badan Pusat Statistik (BPS) mengerahkan ratusan ribu petugas gabungan dari unsur mitra BPS (masyarakat umum), pegawai internal, hingga mahasiswa serta lulusan sekolah tinggi terkait. Pendataan lapangan SE2026 ini berlangsung serentak di seluruh Indonesia dari tanggal 15 Juni hingga 31 Agustus 2026, bergerak dari rumah ke rumah serta dari unit usaha ke unit usah

Kini, keberhasilan program nasional ini berada di tangan masyarakat. Kejujuran warga dalam memberikan data ekonomi sangat diharapkan demi kepentingan bersama. Informasi yang akurat menjadi kunci agar kebijakan pemerintah kelak bisa tepat sasaran dan langsung menyentuh kesejahteraan hidup masyarakat luas

 s.a.anh.. as. gan.n.).tal.n.u.g.m.g.

Read Entire Article
Karya | Politics | | |