Kepala SPPG Bungeng Jeneponto Angkat Bicara Terkait Temuan Ulat di Menu MBG yang Beredar di Media Sosial

3 hours ago 3

JENEPONTO, SULSEL - Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Bungeng, Desa Bungeng, Kecamatan Batang, Kabupaten Jeneponto, Nurkhairunnisa menanggapi adanya temuan ulat di menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang beredar di media sosial, Selasa (4/8/2026). 

Dalam video yang beredar, ulat dalam menu MBG itu terlihat masih hidup dan bergerak pada chicken katsu (ayam kastu).

Nurkhairunnisa mengaku bahwa menu MBG yang diterima oleh penerima manfaat benar dari dapur SPPG Bungeng yang didistribusikan pada Jumat, 31 Juli 2026 lalu.

"Benar itu menu dari kami, ada nasi dan ada chicken kastu untuk balita. Cuma yang saya herankan kenapa baru pi lagi na posting di media sosial na kejadiannya dari beberapa hari lalu, " ujar Nisa sapaannya kepada media, Selasa (4/8/2025).

Dikatakan Nisa, harusnya penerima manfaat komplain pada saat itu juga setelah menu MBG tersebut diterima dari kader di rumahnya.

"Itumi saya langsung datangi rumahnya penerima manfaat untuk klarifikasi. Tapi pas saya di rumahnya tidak ada mamanya ini si penerima manfaat karena katanya sedang ke BRI ada na urus jadi yang terima itu makanan adalah neneknya pada jam 10 pagi, " tandas Nisa.

Dari klarifikasi itu, lanjut Nisa, menu MBG tersebut dipindahkan ke dalam wadah lain (piring) oleh neneknya dan ditutupnya dengan menggunakan penutup panci. 

"Neneknya ini tidak langsung na kasih makan itu balita tapi na simpan ji dulu sambil menunggu mamanya pulang dari BRI. Nah mamanya si pemerima manfaat ini pulang dari BRI jam 2 siang baru na kasih makan anaknya. Jadi ada sekitar 4 jam menu MBG ini disimpan dan ditutup. Nah begitu penutup pancinya dibuka, mamanya sipenerima manfaat menemukan ada ulat di chicken katsu, " tuturnya.

Menurut Nisa, makanan balita itu terlalu lama disimpan yang melewati ambang batas waktu hingga 4 jam sebelum dikonsumsi sehingga kemungkinannya dihinggapi lalat dan bertelur.

Sebab, kata Nisa, dari 2023 penerima manfaat cuma satu laporan yang diterimanya. Pihaknya memastikan bahwa pendistribusian MBG sangat ketat dan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP).

"Buktinya kan ada ji juga dua orang anaknya SD penerima manfaat dengan menu yang sama. Dan kata anaknya makanannya enak dan aman karena ia langsung makan tidak disimpan sampai 4 jam, " ujarnya.

Nisa kesalkan karena seolah-olah dituding pihaknya yang lalai dalam menyajikan program pemerintah tersebut. 

Meski begitu, Nisa secara bijak menyikapinya dan menyampaikan permohonan maaf jika dalam menyajikan menu MBG terdapat kekurangan dan ketidaknyamanan dari penerima manfaat. 

"Kita juga sudah memberikan edukasi kepada penerima manfaat, semoga kedepannnya tidak terulang lagi dan lebih diperbaiki komunikasinya antara kader dengan penerima manfaaf supaya tidak terjadi lagi mix, " pungkasnya. (**)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |