Perhutani Lawu Ds Dukung Pelestarian Tradisi Larung Sesaji Grebeg Suro di Telaga Ngebel

3 hours ago 2

Lawu Ds (18/06/2026) - Perhutani Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Lawu Ds mendukung pelestarian tradisi larung sesaji grebeg suro sebagai peringatan tahun baru Islam 1448 Hijriah sekaligus upaya melestarikan budaya dan kearifan lokal masyarakat disekkitar wisata Telaga Ngebel, Ponorogo, Selasa (16/06/2026).

Tradisi Larung Sesaji yang digelar setiap bulan tanggal satu suro atau satu Muharram ini menjadi salah satu agenda budaya tahunan Kabupaten Ponorogo yang selalu menarik perhatian masyarakat dan wisatawan. Selain sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan berkah, kegiatan ini juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta mendukung pengembangan sektor pariwisata daerah.

Acara tersebut dihadiri Plt. Bupati Ponorogo Lisdyarita, Sekretaris Daerah Kabupaten Ponorogo, Ketua DPRD Ponorogo, Kapolres Ponorogo, Dandim Ponorogo, jajaran Organisasi Perangkat Daerah (OPD), Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), Perhutani, Forkopimcam Ngebel, kepala desa se-Kecamatan Ngebel, tokoh agama, tokoh masyarakat, serta ribuan pengunjung dari berbagai daerah.

Administratur Perhutani KPH Lawu Ds melalui Kepala BKPH Wilis Barat, Purwanto, menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Ponorogo yang secara konsisten melestarikan tradisi Larung Sesaji sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat.

“Tradisi Larung Sesaji merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari identitas budaya dan spiritual masyarakat Telaga Ngebel. Perhutani akan terus berkolaborasi dengan Pemerintah Kabupaten Ponorogo dalam mendukung dan melestarikan tradisi ini sebagai warisan budaya yang bernilai bagi generasi mendatang, ” ujarnya.

Sementara itu, Plt. Bupati Ponorogo, Lisdyarita, mengapresiasi tingginya antusiasme masyarakat yang turut menyukseskan rangkaian kegiatan Grebeg Suro 2026.

“Larungan Telaga Ngebel merupakan puncak rangkaian Grebeg Suro 2026. Kegiatan ini menunjukkan bagaimana seni, budaya, dan kearifan lokal dapat berpadu menjadi daya tarik wisata yang mampu mendatangkan pengunjung dari berbagai daerah, ” katanya.

Menurut Lisdyarita, tradisi larungan yang dilakukan setiap tahun menjadi simbol penghormatan kepada alam sekaligus ungkapan doa untuk keselamatan dan keberkahan di tahun yang baru.

“Larung sesaji berupa gunungan hasil bumi merupakan wujud rasa syukur masyarakat sekaligus permohonan keselamatan dan keberkahan. Tradisi ini merupakan warisan budaya yang harus terus dijaga karena tidak hanya memperkuat identitas Ponorogo, tetapi juga memiliki potensi besar dalam mendukung pertumbuhan ekonomi daerah, ” tambahnya.

Dalam prosesi larungan tahun ini, sebanyak 22 tumpeng dan gunungan hasil bumi dilarung dan diperebutkan masyarakat. Selain Buceng Agung yang disiapkan Pemerintah Kabupaten Ponorogo, terdapat pula gunungan yang disusun dari ikan nila dan buah durian sebagai bentuk kreativitas masyarakat dalam memeriahkan Grebeg Suro sekaligus mengekspresikan rasa syukur atas hasil bumi yang melimpah.

Melalui partisipasi dalam kegiatan tersebut, Perhutani KPH Lawu Ds menegaskan komitmennya untuk terus mendukung pelestarian budaya lokal yang selaras dengan pengembangan pariwisata dan pelestarian lingkungan di kawasan hutan dan wisata alam.@Red. 

Read Entire Article
Karya | Politics | | |