Kepemimpinan H. Ibnu: Turba dari Kantin Kejujuran Kemenag Banyumas

4 hours ago 3

BANYUMAS – Menjelang kumandang adzan duhur, Sabtu (27/06/2026), suasana teduh menyelimuti Kantin Kejujuran atau kantin Barok, di lingkungan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyumas.

Di tempat sederhana itu, secangkir minuman hangat dan perbincangan ringan justru melahirkan pesan besar tentang makna kepemimpinan dan pengabdian yang hebat berdampak dan bermanfaat.

Kepala Kemenag Kabupaten Banyumas, H. Ibnu Asaddudin, duduk bersama sahabat Rahmat, petugas keamanan yang setiap hari setia menjaga lingkungan kantor. 

Tanpa sekat jabatan dan tanpa jarak kedudukan, keduanya berbagi cerita, pengalaman, serta hikmah kehidupan menjelang panggilan salat duhur.

Di tengah kesederhanaan itulah lahir sebuah pesan yang begitu dalam menusuk jiwa raga. Bahwa seorang pemimpin, ketua, pengurus, ataupun pengemban amanah sejatinya tidak cukup hanya melihat dari laporan, mendengar dari cerita, atau menilai dari angka-angka di atas meja di dalam ruang kantor.

Sebab ketika kaki melangkah ke bawah, ketika mata melihat langsung kenyataan, ketika telinga mendengar suara masyarakat dan bawahan, maka tabir persoalan akan terbuka dengan sendirinya. Di sanalah solusi lahir, bukan dari dugaan, melainkan dari kenyataan yang disentuh dengan hati.

"Bukan lagi saatnya kita hanya memperbanyak teori dan rencana. Ini zaman hadir, zaman turun, zaman melihat sendiri sampai ke akar rumput. Ketika kita hadir, maka kita akan tahu apa yang harus diperbaiki dan apa yang harus dilakukan, " tutur H. Ibnu Asaddudin dengan penuh semangat membara.

Beliau mengingatkan bahwa pengabdian tidak membutuhkan panggung dan tepuk tangan. Sebab pujian manusia hanya sementara, sedangkan rida Allah SWT adalah tujuan utama yang sesungguhnya.

"Jangan berharap sanjungan. Jangan bekerja karena ingin dipuji. Cukupkan rida Allah SWT dalam setiap langkah. Jadikan kepedulian sebagai kebutuhan jiwa dan pengabdian sebagai ibadah, " ungkapnya.

Pesan tersebut seolah menjadi panggilan bagi siapa pun yang memegang amanah. Sebab seorang pemimpin, seorang ketua, atau bahkan seorabg kordinator yang langsung hadir akan melihat kenyataan dengan mata kepala sendiri. Seorang ketua yang turun ke lapangan akan memahami persoalan secara utuh original. Dan dari kehadiran itulah lahir keputusan yang menghadirkan solusi, bukan sekadar teori belaka.

Di akhir perbincangan, H. Ibnu Asaddudin kembali menitipkan pesan sederhana namun menggugah.

"Apapun jabatan kita, apapun posisi kita hari ini, teruslah bergerak dan memberi manfaat. Aja gumunan, aja kagetan. Jangan mudah terpesona dan jangan mudah terkejut. Hadirlah, lihatlah, dengarlah, lalu bergeraklah membawa perubahan."

Sementara itu, sahabat Rahmat menyampaikan rasa syukur dan terima kasih atas perhatian serta keteladanan yang diberikan.

"Saya sangat bersyukur dan berterima kasih. Bagi saya, tugas adalah amanah yang harus ditunaikan dengan ikhlas. Selama masih diberi kepercayaan, saya siap melaksanakan tugas dan menjaga amanah dengan sebaik-baiknya, " tuturnya penuh haru.

Pertemuan sederhana menjelang salat duhur itu menjadi pengingat bahwa perubahan besar tidak selalu lahir dari ruang rapat yang megah, melainkan dari langkah kaki yang mau turun, dari hati yang mau mendengar, dan dari pemimpin yang bersedia hadir di tengah kehidupan.

Karena ketika seorang pemimpin turun ke bawah, ia tidak hanya melihat persoalan. Ia sedang menyalakan harapan. Ketika seorang sahabat hadir tanpa sekat, ia sedang menumbuhkan kepercayaan. Dan ketika pengabdian bertemu keikhlasan, keberkahan akan menemukan jalannya sendiri.

(Djarmanto-YF2DOI)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |