Gus Hery Serap Aspirasi 15 PCNU se-Lampung: NU Harus Merangkul Seluruh Nusantara

9 hours ago 3

BANDAR LAMPUNG – Komunikasi menjelang Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) terus menghangat. Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Gus Hery Haryanto Azumi, bersilaturahmi sekaligus menyerap aspirasi jajaran pengurus dari 15 Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) se-Provinsi Lampung, Sabtu (11/7/2026).

Pertemuan yang diselenggarakan secara hibrida tersebut menghadirkan Gus Hery melalui sambungan Zoom. Sementara itu, tim inti yang dipimpin Ketua Tim Pemenangan Dr. H. Fadli Yasir, M.A., bersama Dr. Akhmad Khusyairi, S.T., M.Eng., dan Samsul Muarif, M.Si., hadir langsung di Bandar Lampung.

Forum berlangsung hangat dan penuh keakraban. Para kiai dan pengurus cabang terlibat dalam dialog terbuka mengenai arah kepemimpinan dan penguatan organisasi NU dalam memasuki abad keduanya.

Acara dipandu Sekretaris PCNU Kota Bandar Lampung, Dr. H. Mairozi. Ia membuka ruang seluas-luasnya bagi para peserta untuk menyampaikan pandangan, persoalan organisasi, serta harapan terhadap kepemimpinan PBNU mendatang.

Dalam pengantarnya, Dr. Fadli Yasir menegaskan bahwa Lampung memiliki posisi istimewa dalam perjalanan sejarah Nahdlatul Ulama. Provinsi tersebut menjadi tuan rumah Muktamar Ke-34 NU yang menghasilkan berbagai keputusan penting bagi perjalanan jam’iyah.

“Lampung bukan daerah biasa dalam sejarah NU. Provinsi ini menjadi tuan rumah Muktamar NU Ke-34 yang melahirkan berbagai keputusan penting bagi perjalanan jam’iyah, ” ujar Fadli.

Menurutnya, kunjungan tersebut tidak sekadar menjadi kegiatan silaturahmi, tetapi juga kesempatan untuk mendengarkan secara langsung aspirasi para kiai dan pengurus cabang yang selama ini menjadi penggerak utama NU di daerah.

“Kami datang bukan sekadar bersilaturahmi, tetapi juga ingin mendengarkan secara langsung aspirasi para kiai dan pengurus cabang. Kami meyakini masa depan NU harus dibangun melalui dialog dengan seluruh daerah, bukan hanya ditentukan dari pusat, ” katanya.

## Maju untuk Berkhidmat, Bukan Ambisi Pribadi

Dalam sambutannya melalui Zoom, Gus Hery menegaskan bahwa keputusannya mengikuti kontestasi calon Ketua Umum PBNU bukan dilandasi ambisi pribadi. Langkah tersebut, kata dia, merupakan panggilan untuk mengabdi dan memberikan khidmat terbaik kepada Nahdlatul Ulama.

“Saya hadir bukan karena merasa lebih tahu, lebih mampu, apalagi ingin mengajari atau menggurui para kiai. Saya justru datang untuk belajar, mendengar, dan berkhidmat, ” kata Gus Hery.

Menurutnya, masa depan NU harus dibangun melalui keselarasan ikhtiar, persatuan langkah, serta tujuan besar untuk memajukan organisasi dan menghadirkan kemaslahatan bagi umat.

“Yang ingin kita bangun adalah keselarasan ikhtiar, menyatukan langkah dan tujuan yang lebih besar demi kemajuan Nahdlatul Ulama serta kemaslahatan umat. NU akan semakin kuat apabila seluruh elemennya berjalan bersama dalam semangat musyawarah dan persaudaraan, ” tuturnya.

Dialog berlangsung dinamis dengan sejumlah Ketua PCNU menyampaikan pandangan dan aspirasinya. Mereka antara lain Ketua PCNU Kota Bandar Lampung KH. Ichwan Ajiwibowo, Ketua PCNU Kota Metro KH. Ismail, Ketua PCNU Lampung Barat KH. Imam Syafii, Ketua PCNU Way Kanan KH. Nurul Huda, Ketua PCNU Tulang Bawang Barat KH. Nurul Hadi, serta Ketua PCNU Lampung Utara KH. Sonhaji Anis.

Para kiai menyampaikan doa dan dukungan kepada Gus Hery. Mereka menilai kehadirannya dalam bursa calon Ketua Umum PBNU membawa semangat baru bagi proses regenerasi kepemimpinan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Muktamar mendatang diharapkan menjadi momentum untuk membuka ruang lebih luas bagi kader-kader muda NU yang memiliki kapasitas, integritas, pengalaman, serta visi besar dalam mengembangkan jam’iyah.

## Dorong Penguatan PCNU dan Struktur Akar Rumput

Mewakili para peserta, KH. Ichwan Ajiwibowo menekankan bahwa NU membutuhkan pemimpin yang memahami secara utuh berbagai persoalan organisasi, termasuk kondisi yang dihadapi pengurus cabang dan struktur di tingkat akar rumput.

“Calon Ketua Umum PBNU harus memiliki kemampuan dan memahami secara utuh persoalan yang dihadapi NU, bukan sekadar mengetahuinya dari kejauhan, ” kata KH. Ichwan.

Menurutnya, dialog tersebut memberikan keyakinan bahwa Gus Hery memahami berbagai problem yang sedang dihadapi organisasi. Karena itu, kepemimpinan PBNU mendatang diharapkan memberi ruang lebih besar kepada pengurus cabang dan struktur di bawahnya.

“Kepemimpinan PBNU ke depan harus memberikan ruang yang lebih besar kepada pengurus cabang dan struktur di bawah untuk ikut berkontribusi dalam menentukan arah organisasi, ” ujarnya.

KH. Ichwan juga mengingatkan pentingnya penyusunan peta jalan atau *roadmap* yang jelas bagi NU dalam memasuki abad kedua.

“NU harus memiliki *roadmap* yang jelas untuk seratus tahun ke depan. Salah satu tantangan yang perlu dievaluasi adalah kecenderungan pembangunan organisasi yang masih sangat berpusat di Pulau Jawa, ” katanya.

Ia berpandangan bahwa potensi NU di Pulau Sumatra dan berbagai daerah di luar Jawa sangat besar, tetapi belum sepenuhnya memperoleh ruang yang proporsional dalam kepemimpinan maupun pengambilan keputusan organisasi.

“Kepemimpinan PBNU mendatang harus mampu mengayomi seluruh wilayah secara adil, tanpa membedakan antara pusat dan daerah, ” tegasnya.

## Kepengurusan PBNU Harus Representasikan Nusantara

Menanggapi berbagai aspirasi tersebut, Gus Hery menyampaikan bahwa dirinya memiliki perhatian yang sama terhadap pentingnya pemerataan peran seluruh wilayah dalam struktur kepemimpinan PBNU.

Menurut Gus Hery, pengalaman kepemimpinan KH. Idham Chalid yang mampu menjaga soliditas organisasi selama puluhan tahun menjadi salah satu inspirasi dalam membangun NU ke depan.

“Kepemimpinan KH. Idham Chalid menunjukkan bahwa NU dapat dikelola dengan perspektif kebangsaan yang luas dan mampu merangkul seluruh elemen jam’iyah, ” ujarnya.

Gus Hery menilai struktur kepemimpinan PBNU mendatang harus semakin representatif dan mencerminkan kekuatan NU secara nasional. Kader-kader dari luar Jawa juga harus memperoleh ruang lebih besar untuk terlibat dalam pengelolaan organisasi.

“Komposisi kepengurusan harus mencerminkan kekuatan NU secara nasional, termasuk memberikan ruang yang lebih besar bagi kader-kader dari luar Jawa, ” katanya.

Menurutnya, NU memiliki banyak kader muda dengan kemampuan dan potensi luar biasa. Organisasi harus menghadirkan sistem yang mampu mengidentifikasi, membina, dan memberdayakan seluruh potensi tersebut.

“Potensi kader muda NU saat ini luar biasa besar. Tugas kita adalah menghadirkan sistem yang mampu memberdayakan seluruh potensi itu untuk kemajuan organisasi, ” ucap Gus Hery.

Senada dengan Gus Hery, Dr. Fadli Yasir mengatakan bahwa pemerataan representasi wilayah menjadi salah satu perhatian utama tim.

“Komposisi kepengurusan PBNU antara Jawa dan luar Jawa harus menjadi perhatian serius, ” kata Fadli.

Ia mengusulkan pembentukan forum komunikasi para kiai dari seluruh wilayah Nusantara yang diselenggarakan secara berkala. Forum tersebut diperlukan agar PBNU senantiasa memperoleh masukan langsung dari daerah.

“Ke depan perlu dibangun forum komunikasi para kiai dari seluruh Nusantara secara berkala, misalnya setiap bulan, agar PBNU selalu mendapatkan masukan langsung dari daerah, ” jelasnya.

Menurut Fadli, tantangan NU pada abad kedua akan semakin kompleks. Oleh sebab itu, mekanisme pengambilan keputusan organisasi harus semakin partisipatif dan didasarkan pada aspirasi seluruh wilayah.

## NU Bukan Stempel Kekuasaan

Dalam kesempatan tersebut, Gus Hery turut menyampaikan pandangannya mengenai hubungan Nahdlatul Ulama dengan negara dan pemerintah.

Menurutnya, sebagaimana pesan almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, NU harus menjaga independensinya sebagai organisasi masyarakat sipil yang berpijak pada kepentingan umat dan bangsa.

“NU bukan lembaga stempel negara. Gus Dur selalu mengingatkan bahwa NU harus bergerak dari bawah dan mendengarkan aspirasi warga nahdliyin, bukan menjadikan kekuasaan sebagai orientasi utama, ” ujar Gus Hery.

Ia menjelaskan bahwa NU harus mampu membangun dialog yang setara dengan pemerintah. NU dapat mendukung kebijakan yang berpihak kepada masyarakat, tetapi tetap harus berani menyampaikan kritik secara santun apabila terdapat kebijakan yang dinilai tidak sesuai dengan kepentingan umat.

“NU harus mampu berdialog dengan pemerintah secara setara, memberikan dukungan terhadap kebijakan yang baik, sekaligus menyampaikan kritik secara santun apabila diperlukan, ” katanya.

Gus Hery menegaskan bahwa hubungan NU dan pemerintah harus menjadi hubungan dua arah yang saling menguatkan untuk kepentingan bangsa, bukan hubungan transaksional maupun ketergantungan organisasi terhadap kekuasaan.

“Hubungan NU dan pemerintah adalah hubungan dua arah yang saling menguatkan demi kepentingan bangsa, ” tegasnya.

## NU Harus Terus Menghadirkan Solusi

Gus Hery menambahkan bahwa sepanjang sejarahnya, Nahdlatul Ulama selalu hadir memberikan kontribusi dan solusi ketika bangsa menghadapi berbagai persoalan besar.

“Sejarah mencatat NU selalu hadir ketika bangsa menghadapi persoalan besar, mulai dari masa awal kemerdekaan, dinamika politik pada dekade 1950-an, berbagai krisis pada era Orde Baru, hingga Reformasi 1998, ” ujarnya.

Karena itu, menurut Gus Hery, NU harus terus membangun warisan atau *legacy* sebagai organisasi yang mampu memberikan solusi nyata bagi umat dan bangsa.

“NU harus terus membangun *legacy* sebagai organisasi yang mampu menghadirkan solusi, bukan sekadar menjadi penonton sejarah, ” katanya.

Silaturahmi yang berlangsung selama lebih dari dua jam tersebut ditutup dengan doa bersama yang dipimpin Ketua PCNU Lampung Utara, KH. Sonhaji Anis.

Para peserta berharap komunikasi dan dialog dengan seluruh struktur NU di daerah terus dilakukan sebagai bagian dari ikhtiar memperkuat persatuan jam’iyah serta mempersiapkan kepemimpinan NU yang mampu menjawab tantangan abad kedua dengan semangat kebersamaan, pemerataan, dan pengabdian. (PERS) 

Read Entire Article
Karya | Politics | | |