BUKITTINGGI - Malam penuh kehangatan menyelimuti halaman Balai Kota Bukittinggi pada Rabu (3/6) malam. Pesta selamat datang, Welcome Dinner, International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4 Tahun 2026, menjadi saksi bisu momen bersejarah bagi kota yang dijuluki 'Kota Perjuangan' ini. Lebih dari sekadar jamuan makan, acara ini adalah simfoni perayaan 100 tahun Jam Gadang yang ikonik, sekaligus gerbang pembuka bagi delegasi dari 38 negara untuk menjelajahi pesona Minangkabau.
Suasana meriah dihadiri oleh jajaran pejabat pemerintah, tokoh masyarakat yang kharismatik, serta perwakilan penting dari kancah internasional. Husen Ramdhan dari KBRI London, Duta Besar RI untuk Jepang Nurmala Kartini, Ketua LKAM Sumbar, keluarga besar Kompas TV, dan Gubernur Sumatera Barat Mahyeldi turut meramaikan malam penuh makna ini.
Wali Kota Bukittinggi, Ramlan Nurmatias, tak bisa menyembunyikan rasa bangganya. Ia mengungkapkan bahwa kedatangan para delegasi internasional adalah sebuah kehormatan yang tak ternilai bagi kota ini. Baginya, Bukittinggi bukan sekadar kota indah, melainkan saksi bisu perjalanan bangsa Indonesia, termasuk peran vitalnya sebagai ibu kota Pemerintahan Darurat Republik Indonesia (PDRI) pada tahun 1948. Pengalaman sejarah ini, ia percaya, akan semakin memikat hati para tamu.
"Suatu kebanggaan bagi kami atas kedatangan para undangan dan delegasi dari berbagai negara di Kota Bukittinggi dalam rangka IMLF ini, " kata Ramlan.
Lebih lanjut, Wali Kota Ramlan memaparkan visi Bukittinggi untuk bertransformasi menjadi kota berkelas dunia. Program prioritas dari Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) melalui National Urban Development Project (NUDP) tengah digulirkan. Konsep kota ramah pejalan kaki dan kota yang responsif terhadap kebutuhan warganya menjadi fokus utama. Ia berharap, melalui festival ini, promosi Bukittinggi sebagai destinasi wisata dan budaya unggulan di kancah global akan semakin menguat.
Panggung IMLF 2026 tak hanya menjadi ajang sambutan, namun juga panggung ekspresi. Delegasi dari Italia, Swiss, Bulgaria, dan Malaysia dengan syahdu menampilkan pembacaan puisi, menyulam benang-benang keindahan kata lintas budaya.
Prof Maja Panajoto, perwakilan dari Belgia sekaligus mitra dari Bulgaria, takjub menyaksikan antusiasme masyarakat Indonesia dalam mengapresiasi seni sastra. Pengalaman ini, baginya, adalah pelajaran berharga.
"Sangat fantastis. Eropa harus belajar dari Indonesia dalam mengapresiasi pembacaan puisi, " ujarnya.
Daniel Zomret, perwakilan Kedutaan Besar Bulgaria di Jakarta, untuk pertama kalinya menginjakkan kaki di Bukittinggi. Ia terpukau oleh keramahan penduduk lokal dan panorama alam yang memukau.
Menurut Daniel, penyelenggaraan International Minangkabau Literacy Festival memiliki potensi luar biasa untuk mendongkrak daya tarik Bukittinggi dan Sumatera Barat di mata dunia. Perpaduan antara literasi, seni pertunjukan tradisional Minangkabau, Bali, hingga Malaysia, menjadi magnet kuat yang diharapkan mampu menarik lebih banyak wisatawan internasional.
"Saya melihat potensi yang sangat besar. Festival ini dapat menjadi daya tarik tambahan bagi wisatawan internasional untuk datang ke Bukittinggi dan Sumatera Barat, " katanya.
(Lindafang)

















































