JAKARTA - Anggota Komisi V DPR RI dari Fraksi NasDem, Ir. Teguh Iswara Suardi, ST., M.Sc, memberikan catatan merah terkait kesiapan infrastruktur dan transportasi jelang arus mudik Lebaran 2026.
Meski data menunjukkan kemantapan jalan di Sulawesi mencapai 97, 15%, kenyataan di lapangan berkata lain.
Dalam Rapat Kerja Komisi V DPR RI di Senayan, legislator asal Dapil Sulawesi Selatan II ini blak-blakan soal kondisi jalan trans-nasional yang masih dihiasi lubang membahayakan.
Teguh mengungkapkan adanya ketimpangan antara data statistik dengan kondisi riil di lapangan.
Berdasarkan data Kementerian PU, jalan di Sulawesi diklaim sebagai yang termantap secara nasional. Namun, Teguh menemukan fakta berbeda saat turun ke dapilnya.
"Di lintasan Trans Nasional Kabupaten Barru, saya masih menemukan cukup banyak lubang. Ini berpotensi jadi penyebab kecelakaan. Jangan sampai angka 97 persen itu membuat kita terlena sementara warga bertaruh nyawa di jalan, " tegas Teguh.
Tak hanya darat, transportasi laut juga menjadi sorotan tajam. Mengacu pada data Basarnas, angka kecelakaan laut masih cukup tinggi. Teguh mendesak otoritas terkait untuk tidak main-main dalam melakukan pemeriksaan kelayakan kapal (ramp check).
"Proses ramp check harus diperketat. Jangan sekadar formalitas. Keselamatan penumpang adalah prioritas utama, terutama saat beban muatan kapal meningkat di musim mudik, " jelasnya.
Di sisi lain, Teguh memberikan apresiasi tinggi kepada Kementerian Perhubungan (Kemenhub). Pasalnya, usulan mengenai pemerataan program Mudik Gratis kini mulai menyentuh luar Pulau Jawa, termasuk jalur laut.
"Ini kabar baik bagi warga kepulauan. Kami harap sosialisasi diperkuat agar masyarakat tahu bahwa mudik gratis bukan cuma milik warga di Pulau Jawa lagi, " tambah Teguh.
Mengingat prediksi BMKG soal curah hujan tinggi pada Maret 2026 di wilayah Jabar, Jateng, dan Sulsel, Teguh mengusulkan langkah antisipatif yang lebih berani.
- Modifikasi Cuaca: Mendukung langkah TMC (Teknologi Modifikasi Cuaca) jika diperlukan agar ibadah Ramadan dan mudik tidak terganggu bencana.
- Komunikasi Inovatif: Meminta BMKG menggandeng influencer dan platform digital populer agar informasi cuaca tidak hanya akurat di atas kertas, tapi benar-benar sampai ke ponsel masyarakat.
"Akurasi BMKG sudah jempolan, tapi cara penyampaiannya harus lebih kekinian. Gunakan influencer, masuk ke situs populer. Tujuannya agar masyarakat punya literasi bencana yang baik sebelum berangkat mudik, " tutupnya.










































