Tantangan Guru PAI dalam Mewujudkan Evaluasi yang Holistik dan Autentik

1 month ago 25

Nama: sutriani
Tantangan Guru PAI dalam Mewujudkan Evaluasi yang Holistik dan Autentik

Pendidikan Agama Islam (PAI) di sekolah memiliki peran strategis dalam membentuk peserta didik yang beriman, berakhlak mulia, dan mampu mengamalkan ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Dalam perspektif pendidikan Islam, pendidikan dipahami sebagai proses pengembangan manusia secara menyeluruh yang mencakup aspek intelektual, spiritual, emosional, sosial, dan moral. Oleh karena itu, keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari pembentukan karakter dan kepribadian peserta didik secara holistik 
Evaluasi pembelajaran menjadi komponen yang sangat penting. Evaluasi tidak sekadar pemberian skor, melainkan proses sistematis untuk memperoleh informasi mengenai pencapaian belajar peserta didik dan kualitas pembelajaran sebagai dasar pengambilan keputusan dan perbaikan pembelajaran. Dalam pendidikan Islam, evaluasi ideal harus mampu menggambarkan perkembangan pengetahuan, sikap, dan keterampilan peserta didik secara utuh. 
Evaluasi holistik dan autentik menjadi semakin mendesak. Guru PAI dituntut menilai penguasaan materi ajaran Islam, keterampilan praktik ibadah, serta internalisasi nilai dan sikap keagamaan. Tantangan ini semakin kompleks dengan adanya dinamika perkembangan teknologi, krisis moral remaja, serta pluralitas budaya dan agama yang menuntut pendekatan evaluasi yang lebih kontekstual dan bermakna.
Beberapa tantangan Guru PAI dalam Mewujudkan Evaluasi yang Holistik dan Autentik sebagai berikut.
Implementasi evaluasi holistik dan autentik sudah dimulai, tetapi belum utuh
Secara formal guru PAI telah berupaya menerapkan penilaian autentik yang mencakup aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sebagaimana dituntut kurikulum. Bentuk-bentuk penilaian yang digunakan antara lain tes tertulis dan lisan, penugasan proyek, observasi sikap, penilaian praktik ibadah, hingga portofolio sederhana.
Namun demikian di beberapa sekolah dasar dan menengah menunjukkan bahwa implementasi tersebut umumnya masih lebih kuat pada ranah kognitif, sementara penilaian sikap dan keterampilan belum dilakukan secara sistematis dan berkesinambungan. yang mengkaji pelaksanaan penilaian autentik PAI menyimpulkan bahwa penilaian tiga ranah memang “dilaksanakan”, tetapi dokumentasi, kedalaman, dan konsistensinya masih terbatas.
Tantangan pengembangan instrumen evaluasi autentik yang holistik
Adanya beberapa guru mengalami kesulitan dalam mengembangkan instrumen evaluasi autentik yang benar-benar holistik. Tantangan yang banyak disebut antara lain: Menyusun indikator dan rubrik penilaian yang rinci untuk ranah sikap dan keterampilan; Menggabungkan penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik ke dalam satu rangkaian tugas atau proyek; Menyusun format observasi yang praktis namun tetap valid dan reliabel. “tantangan pengembangan instrumen evaluasi autentik yang holistik” sebagai problem utama evaluasi PAI, di samping kesulitan menilai ranah afektif dan psikomotorik 
Kesulitan penilaian ranah afektif dan psikomotorik
Evaluasi PAI berbasis tiga ranah menegaskan bahwa guru cenderung lebih mudah menilai pengetahuan dibandingkan sikap dan keterampilan. Untuk ranah afektif, guru mengaku kesulitan:Mengamati perilaku siswa secara konsisten dalam berbagai konteks (di kelas, di luar kelas, kegiatan keagamaan); Membedakan perilaku yang benar-benar lahir dari internalisasi nilai dengan perilaku “sementara” karena ingin dinilai baik; Mengolah data observasi agar menjadi nilai yang adil dan akuntabel.
Pada ranah psikomotorik, kesulitan muncul ketika guru harus menilai praktik ibadah (salat, wudu, baca Al-Qur’an) satu per satu di kelas besar, dengan waktu terbatas. Beberapa studi kasus di sekolah dasar dan menengah mencatat bahwa praktik ibadah sering kali dinilai secara sampling, tidak menyeluruh, sehingga tidak semua siswa mendapatkan penilaian yang sama intensif 
Keterbatasan pemahaman dan kompetensi guru tentang penilaian autentik
Guru mengalami kesulitan dalam mengembangkan instrumen evaluasi autentik yang benar-benar holistik. Tantangan yang banyak disebut antara lain: Menyusun indikator dan rubrik penilaian yang rinci untuk ranah sikap dan keterampilan; Menggabungkan penilaian kognitif, afektif, dan psikomotorik ke dalam satu rangkaian tugas atau proyek; Menyusun format observasi yang praktis namun tetap valid dan reliabel “tantangan pengembangan instrumen evaluasi autentik yang holistik” sebagai problem utama evaluasi PAI, di samping kesulitan menilai ranah afektif dan psikomotorik 
Faktor struktural: waktu, jumlah siswa, dan administrasi
Guru PAI menunjukkan bahwa faktor struktural sekolah berperan besar dalam menghambat pelaksanaan evaluasi holistik dan autentik, antara lain: Jumlah siswa per kelas yang besar; Alokasi jam pelajaran PAI yang relatif sedikit; Beban administrasi penilaian yang tinggi (banyak format dan laporan).menilai praktik ibadah, serta mengolah portofolio untuk puluhan siswa dalam beberapa kelas terasa sangat berat jika tidak didukung sistem dan sarana yang memadai.
Kesenjangan antara tuntutan regulasi dan praktik di lapangan
Standar Penilaian Pendidikan menuntut penilaian yang menyeluruh, berkesinambungan, dan berbasis berbagai teknik penilaian (tes dan non-tes), yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan.implementasi penilaian autentik dalam PAI masih belum sepenuhnya selaras dengan standar tersebut. Praktik penilaian tradisional yang berorientasi pada ulangan tertulis dan angka rapor masih dominan, sedangkan fungsi formatif dan diagnostik penilaian belum dimanfaatkan secara optimal 
Bagi Guru PAI Meningkatkan literasi evaluasi melalui pelatihan, workshop yang fokus pada penyusunan indikator, rubrik, dan instrumen penilaian autentik untuk ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik; Mengembangkan tugas-tugas autentik (proyek keagamaan, jurnal ibadah, portofolio, penilaian diri dan teman sebaya) yang kontekstual dengan kehidupan peserta didik sehingga penilaian tidak hanya berhenti pada tes tertulis; Memanfaatkan teknologi sederhana untuk membantu pengumpulan bukti penilaian sikap dan keterampilan tanpa menambah beban kerja secara berlebihan

Read Entire Article
Karya | Politics | | |