MOROWALI, Sulawesi Tengah– Serikat Petani Indonesia (SPI) DPC Morowali mendesak Pemerintah Kabupaten Morowali segera menyelidiki dugaan dampak aktivitas pertambangan PT Kurnia Deges Raptama (KDR) terhadap kondisi Sungai Solonsa yang menjadi sumber irigasi utama bagi ratusan hektare lahan persawahan masyarakat di Kecamatan Witaponda, termasuk areal sawah organik.
Ketua SPI DPC Morowali, Imam Ghalib Ghazzali, mengatakan setiap kali hujan deras, air Sungai Solonsa berubah keruh akibat tingginya sedimentasi yang diduga berasal dari wilayah hulu, yang terdapat aktivitas pertambangan. Kondisi tersebut, menurutnya, berpotensi memengaruhi kualitas air irigasi, mengganggu sistem pengairan, hingga berdampak pada produktivitas pertanian apabila terus berlangsung tanpa penanganan yang memadai.

"Air Sungai Solonsa merupakan sumber irigasi bagi ratusan hektare sawah masyarakat. Setiap hujan deras air berubah keruh. Dugaan kami, sedimentasi berasal dari wilayah hulu yang terdapat aktivitas pertambangan. Karena itu kami meminta pemerintah melakukan penyelidikan berdasarkan data dan fakta di lapangan, " ujar Imam Ghalib Ghazzali, Sabtu (11/7/2026).
Ia mengungkapkan, kondisi tersebut telah menimbulkan keresahan di kalangan petani. Saat ini, sejumlah petani memilih menutup penuh saluran irigasi karena khawatir air yang masuk ke sawah membawa lumpur dalam jumlah besar dan berdampak terhadap tanaman padi.
"Sekarang pintu irigasi ditutup penuh. Petani takut memasukkan air karena kondisinya sangat keruh. Ini bukan persoalan kecil karena menyangkut keberlangsungan produksi pangan masyarakat, " katanya.
Menurut Imam Ghalib, perlindungan terhadap sumber air irigasi harus menjadi perhatian serius seluruh pihak, terlebih di tengah komitmen Presiden Republik Indonesia dalam mewujudkan ketahanan pangan dan swasembada pangan nasional. Ia menilai sumber-sumber air pertanian harus dijaga agar tidak mengalami penurunan kualitas yang dapat merugikan petani.
Karena itu, SPI DPC Morowali mendesak Pemerintah Kabupaten Morowali melalui Dinas Lingkungan Hidup Daerah (DLHD), Dinas Pertanian, pemerintah kecamatan, serta instansi terkait untuk segera melakukan investigasi menyeluruh terhadap penyebab kekeruhan Sungai Solonsa. SPI juga meminta pihak perusahaan pertambangan, kelompok tani, dan seluruh pemangku kepentingan duduk bersama dalam forum dialog resmi guna membahas persoalan tersebut berdasarkan hasil kajian dan fakta lapangan.
Selain Sungai Solonsa, Imam Ghalib Ghazzali meminta perhatian yang sama diberikan terhadap jaringan irigasi di Sungai Karaupa dan wilayah Bumi Harapan. Menurutnya, Kecamatan Bumi Raya dan Witaponda merupakan kawasan sentra pertanian sekaligus lumbung pangan Kabupaten Morowali sehingga seluruh sumber air irigasinya harus mendapat perlindungan.
"Upaya perlindungan tidak hanya dilakukan di Sungai Solonsa, tetapi juga di Sungai Karaupa dan Bumi Harapan. Bumi Raya dan Witaponda merupakan wilayah pertanian dan pangan di Morowali. Karena itu, sumber air irigasi harus dijaga bersama demi keberlanjutan pertanian dan kesejahteraan petani, " tegasnya.
SPI DPC Morowali berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret melalui penyelidikan yang objektif dan transparan sehingga penyebab kekeruhan Sungai Solonsa dapat dipastikan. Dengan demikian, solusi yang tepat dapat diambil untuk menjaga kelestarian lingkungan sekaligus melindungi sektor pertanian yang menjadi sumber penghidupan masyarakat.
Sementara itu, upaya konfirmasi kepada pihak PT Kurnia Deges Raptama (KDR) telah dilakukan. Wartawan media ini menghubungi Kepala Teknik Tambang (KTT) PT KDR, Roman, via WhatsApp (WA) untuk meminta tanggapan terkait dugaan dampak aktivitas pertambangan terhadap kekeruhan Sungai Solonsa yang dikeluhkan masyarakat dan petani.
Namun, Roman tidak memberikan penjelasan atas substansi persoalan tersebut. Ia justru mengarahkan wartawan untuk menghubungi pihak lain. Padahal, sebagai Kepala Teknik Tambang (KTT), Roman memiliki kapasitas teknis untuk memberikan penjelasan mengenai operasional pertambangan serta isu yang menjadi perhatian masyarakat
"Untuk informasi selanjutnya nanti di bantu oleh pak Asnawi untuk informasi dari PT. Kurnia pak.. Untuk informasi tentang foto tersebut saya tidak secara langsung area tersebut pak, " tulisnya.
Namun tak berselang lama setelah, dicecar sejumlah pertanyaan, ia mengirimkan kembali pertanyaan terkait hal tersebut bahkan mengklaim bahwa air sungai Solonsa sudah jernih.

"Tapi karena ada informasi berita terkait foto tersebut, , saya juga sempat di beri tahu teman tentang di muat nya berita tentang dugaan penyebab keruhnya air sungai oleh PT. KURNIA DEGESS. Saya langsung arahkan teman-teman untuk mengecek langsung di lokasi, hari ini tim kelapangan untuk cek secara langsung pak. Alhamdulillah kondisi Pond kami kondisi baik, , sungai alhamdulillah kondisi jernih. Kondisi kekeruhan ini biasa disebabkan curah hujan yang tinggi menyebabkan volume air besar dan lamanya waktu hujan menentukan juga pak, " balasnya.
Bahkan, dia mengklaim sejak 2024 PT KDR sudah tak berkegiatan. "Kami sejak awal 2024 sudah tidak beraktivitas, agak bingung pak kenapa PT. KDR namanya masuk di berita, " tulisnya lagi.
Seperti apa kelanjutannya, nantikan investigasi media ini di pemberitaan selanjutnya termasuk tindakan dan langkah tegas dari Pemerintah Daerah maupun pihak berwenang menindaklanjuti keluhan masyarakat tersebut. (Tar)

















































