Polda Sumbar Selesaikan Kasus Pemerasan Online dengan Restorative Justice, Pelaku Minta Maaf

2 days ago 3

Padang – Polda Sumatera Barat menyelesaikan kasus dugaan pemerasan melalui media elektronik dengan pendekatan restorative justice, setelah korban dan terlapor sepakat berdamai dalam proses penyelidikan.

Kasus tersebut ditangani Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Sumbar, yang melibatkan korban berinisial S (52), warga Kabupaten 50 Kota. Modus yang digunakan pelaku yakni memanfaatkan akun media sosial palsu untuk melakukan komunikasi dan ancaman.

Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Pol Susmelawati Rosya, mengatakan penanganan perkara masih berada pada tahap penyelidikan saat proses mediasi dilakukan.

“Penyidik telah meminta keterangan dari sejumlah saksi dan melakukan pendalaman alat bukti untuk mengungkap peristiwa secara utuh, ” ujarnya.

Dari hasil penyelidikan, diketahui pelaku menggunakan video hasil editan sebagai sarana ancaman untuk menekan korban. Video tersebut dibuat dari interaksi yang sebelumnya terjadi melalui akun palsu.

“Video yang digunakan sebagai alat ancaman merupakan hasil editan terlapor untuk menekan korban, ” jelasnya.

Seiring perkembangan perkara, kepolisian mengedepankan pendekatan kemanusiaan dengan memfasilitasi mediasi antara kedua belah pihak. Hasilnya, korban dan terlapor sepakat menyelesaikan kasus secara kekeluargaan.

Menurut Susmelawati, terlapor telah mengakui perbuatannya dan menyampaikan permohonan maaf secara terbuka, yang kemudian diterima oleh korban.

“Pendekatan restorative justice kami utamakan, dengan fokus pada pemulihan dan kesepakatan kedua pihak, ” katanya.

Dengan adanya kesepakatan tersebut, perkara tidak dilanjutkan ke tahap penegakan hukum berikutnya.

Polda Sumbar tetap mengingatkan masyarakat agar meningkatkan kewaspadaan dalam aktivitas digital, khususnya terhadap akun anonim yang berpotensi digunakan untuk tindak kejahatan.

“Masyarakat diimbau bijak bermedia sosial, tidak mudah percaya pada akun tidak dikenal, serta tidak sembarangan membagikan data pribadi atau melakukan interaksi berisiko, ” tutupnya.


(BERRY)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |