Oleh : Indra Gusnady
Di tengah derasnya arus berita politik dan ekonomi yang sering membuat kepala pening, sebuah video pendek di media sosial tiba-tiba terasa seperti udara segar. Bukan tentang pejabat, bukan pula tentang kontroversi. Hanya seorang pria yang baru keluar dari area parkir Pasar Padang Panjang, lalu bercerita dengan nada kagum.
Di tangannya, selembar karcis parkir kecil. Di atasnya tercetak logo Pemerintah Kota Padang Panjang dan tarif tetap: Rp3.000. Ia berkata, “Waduh, brnda satu ini adalah salah satu benda paling langka di Sumatera Barat. Lihat ini, karcis parkir yang ada logo pemerintahnya. Anda tinggal di mana di Sumbar? Pernah lihat karcis seperti ini?”
Nada suaranya ringan, tapi sarat makna. Bukan soal parkir, sebenarnya, tapi tentang keteraturan dan kejujuran yang masih hidup di tempat-tempat kecil yang sering kita abaikan. Ia menyebut karcis petugas parkir itu sebagai “benda langka”—julukan yang justru terasa lebih tajam daripada laporan panjang tentang tata kelola pemerintahan.
Sebab dalam dunia yang penuh ketidakpastian, menemukan orang yang bekerja dengan jujur tanpa disuruh adalah kemewahan.
𝗞𝗲𝗯𝗶𝗮𝘀𝗮𝗮𝗻 𝗞𝗲𝗰𝗶𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝘆𝗲𝗹𝗮𝗺𝗮𝘁𝗸𝗮𝗻 𝗡𝗶𝗹𝗮𝗶
Kisah sederhana itu viral bukan karena dramatis, melainkan karena jujur. Orang rindu melihat sesuatu yang berjalan sebagaimana mestinya. Di banyak tempat lain, urusan parkir bisa berubah jadi urusan abu-abu: tanpa karcis, tanpa tarif jelas, tanpa tanggung jawab. Tapi di kota kecil ini, selembar kertas kecil dengan cap resmi bisa menghadirkan rasa percaya.
𝗞𝗲𝗷𝘂𝗷𝘂𝗿𝗮𝗻, 𝗿𝘂𝗽𝗮𝗻𝘆𝗮, 𝗺𝗮𝘀𝗶𝗵 𝗯𝗶𝘀𝗮 𝗺𝗲𝗻𝗷𝗮𝗱𝗶 𝘀𝗶𝘀𝘁𝗲𝗺.
Karcis itu menandakan bahwa pemerintah hadir, bukan hanya dalam bentuk peraturan atau seremoni, tapi dalam mekanisme kecil yang tertib. Ia juga menandakan bahwa warga masih percaya, karena tahu uang yang dibayar punya tujuan dan tercatat.
Dari hal kecil seperti itulah sebuah tata kelola yang sehat dibangun. Negeri yang besar bukan karena proyeknya megah, tapi karena sistemnya berjalan dari bawah—dari pasar, dari terminal, dari pinggir jalan tempat benda-benda seperti itu bekerja tanpa banyak bicara.
𝗞𝗲𝘁𝗶𝗸𝗮 𝗡𝗶𝗹𝗮𝗶 𝗧𝗮𝗸 𝗟𝗮𝗴𝗶 𝗗𝗶𝗽𝗲𝗹𝗮𝗷𝗮𝗿𝗶, 𝗧𝗮𝗽𝗶 𝗗𝗶𝗵𝗶𝗱𝘂𝗽𝗶
Yang menarik dari video itu bukan karcisnya, melainkan kesadaran yang tumbuh darinya. Sang perekam menutup videonya dengan kalimat yang menampar halus:
“Kalau benda langka ini sampai hilang dari Sumatera Barat, saya nggak tahu, masih pantas nggak kita bilang negeri ini masih berlaku Adat bersendi sarak, Sarak bersendi Kitabullah.”
Sebuah kalimat yang menegur kita semua—tanpa teriak, tanpa marah.
Ia seperti mengingatkan bahwa nilai-nilai luhur bukan soal kata-kata yang sering kita dengar di podium, tapi tentang bagaimana ia hadir di kehidupan sehari-hari. Bahwa adat, syarak, dan moralitas bukan sekadar simbol kebanggaan, tapi sesuatu yang harus dirawat lewat tindakan kecil yang benar.
Petugas parkir itu tidak sedang melakukan hal besar. Ia tidak sedang mengajarkan moral kepada siapa pun. Tapi tindakannya justru menjadi pelajaran moral bagi semua yang melihat.
Kita sering lupa bahwa bangsa besar tidak tumbuh dari ajaran, tapi dari kebiasaan. Nilai yang dipelajari bisa terlupa; nilai yang dihidupi akan bertahan.
𝗣𝗲𝘀𝗮𝗻 𝗠𝗼𝗿𝗮𝗹 𝗱𝗮𝗿𝗶 𝗣𝗮𝘀𝗮𝗿 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗧𝗲𝗿𝘁𝗶𝗯
Pasar Padang Panjang mungkin tampak kecil di peta Sumatera Barat, tapi dalam video itu, ia terasa seperti cermin besar dari bangsa yang sedang mencari arah moralnya. Pasar yang bersih, pedagang yang ramah, dan sistem parkir yang jujur — semuanya membentuk harmoni sosial yang jarang kita temui di tengah hiruk pikuk birokrasi dan politik yang kian riuh.
Kita sering terjebak dalam pikiran bahwa kejujuran harus diajarkan dari atas. Padahal, kadang yang paling tulus datang dari bawah — dari mereka yang bekerja diam-diam menjaga nilai agar tidak pudar.
Mungkin itulah mengapa video itu terasa menyentuh. Karena ia bukan tentang parkir, melainkan tentang kehilangan: tentang ketakutan bahwa “benda langka” seperti itu suatu hari benar-benar akan hilang, dan kita tak lagi punya wajah jujur untuk dikenang.
Selembar karcis kecil mengingatkan bahwa sistem yang besar selalu dimulai dari hal kecil yang dikerjakan dengan benar.
Dan bangsa ini, mungkin, hanya perlu lebih banyak “benda langka” — orang-orang yang tidak menuntut perubahan besar, tapi memilih bekerja jujur di tempat kecil, agar dunia tetap berjalan sebagaimana mestinya







































