BANYUMAS - Suasana Aula Universitas Muhammadiyah Purwokerto, Sabtu (1/11/2025), terasa khidmat namun penuh semangat kebangkitan.
Seluruh pengurus Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Banyumas masa khidmat 2025–2030 hadir lengkap, bersama para tamu undangan dan tokoh lintas unsur.

Dalam forum Musyawarah Kerja MUI Banyumas, Kepala Kementerian Agama Kabupaten Banyumas, Dr. H. Ibnu Asaddudin, S.Ag., M.Pd., menyampaikan sambutan yang menggugah, sebuah refleksi mendalam tentang makna ilmu, guru, dan peran ulama sebagai cahaya penuntun umat.

Mengawali sambutannya, H. Ibnu mengutip pepatah Arab yang sarat makna,
“Laulal ‘ulama lasharan naas kal bahaaim, Andai bukan karena ulama, manusia bagaikan binatang.”
Menurutnya, pepatah ini bukan sekadar kalimat klasik, melainkan cermin hakikat kehidupan. “Tanpa ilmu, manusia kehilangan arah, tanpa ulama, manusia kehilangan cahaya, ” ujarnya dengan nada bergetar.
Ia lalu menegaskan, peran ulama adalah membimbing manusia agar hidup tidak hanya dengan naluri, tetapi dengan nurani.
Beliau juga mengutip ungkapan lain yang penuh hikmah,
“Laula al-murabbi ma ‘araftu Rabbi, Seandainya tidak ada guruku, niscaya aku tidak akan mengenal Tuhanku, " ungkapnya.
Kalimat ini, katanya, menegaskan betapa pentingnya guru dalam menyingkap tirai keilahian. Seperti dalam Al-Hikam, guru sejati bukan sekadar pemberi ilmu lisan, tetapi penyentuh hati yang menjernihkan cermin jiwa hingga cahaya Ilahi memancar terang.
Dalam suasana yang penuh harap, H. Ibnu menegaskan agar MUI Banyumas meneguhkan peran sebagai guru penentram, bukan hanya bagi umat, tetapi juga bagi pemerintah.
“Jadikan MUI sebagai guru yang menentramkan umatnya, menentramkan pemerintahnya. Jika itu terwujud, Banyumas akan menjadi daerah yang tenang, aman, dan layak bagi tumbuhnya investasi serta kemajuan bersama, " ujarnya.
Beliau juga mengingatkan, sudah bukan zamannya lagi MUI hanya menjadi simbol formalitas.
“Sudah bukan saatnya MUI hanya menjadi teori atau hiasan pigura. MUI adalah aktor terbaik di panggung sandiwara Tuhan. Kita hanyalah wakil Tuhan untuk menyapa hamba-Nya dengan cinta yang dititipkan di pundak kita, " terangnya.
Menutup sambutannya, Dr. H. Ibnu Asaddudin mengajak seluruh jajaran MUI Banyumas untuk menghidupkan kembali pendopo-pendopo syiar Islam, dimulai dari Pendopo Kabupaten hingga ke pendopo kecamatan dan balai desa.
“Mari hidupkan Pendopo Pemkab dengan peringatan hari besar Islam. Jangan biarkan tempat itu kering dari cahaya zikir dan doa. Dari sana, Banyumas akan kembali berdenyut dengan syiar-syiar keagamaan yang menyejukkan, ” pesannya penuh harapan.
Musyawarah Kerja MUI Banyumas kali ini diharapkan tidak berhenti pada tataran konsep, tetapi melahirkan “sapaan dan sentuhan nyata bagi umat”, sebagaimana doa penutup H. Ibnu yang disambut takbir dan tepuk tangan peserta.
Dalam keheningan yang sarat makna, sambutan Kepala Kemenag Banyumas itu meninggalkan gema spiritual, bahwa ilmu dan ulama adalah dua cahaya yang tak boleh padam. Banyumas, dengan MUI di baris terdepannya, kini kembali diajak menjadi tanah yang bercahaya oleh ilmu dan cinta Ilahi, tanah yang damai karena ulama dan umatnya saling menentramkan.
(Djarmanto-YF2DOI)




































:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,598,20,0)/kly-media-production/medias/4849524/original/085214000_1717171762-19_WhatsApp_Image_2024-05-31_at_22.15.20__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382095/original/065022200_1760528961-nova_arianto.jpg)

