OPINI - Ada cara sederhana membaca ekonomi Indonesia: jangan hanya lihat papan kurs, lihat juga bungkus nasi Padang. Sebab di sanalah ekonomi rakyat bekerja dengan jujur. Ada beras, cabai, santan, daging, ayam, minyak, gas, listrik, sewa tempat, upah pekerja, ongkos distribusi, sampai margin pedagang. Satu bungkus nasi Padang adalah miniatur inflasi nasional yang dibungkus daun, kertas, dan kuah gulai.
Ketika satu dolar AS hari ini berada di sekitar Rp17.800-an, lalu di lapangan masih ditemukan nasi rendang Padang seharga Rp17.000 sampai Rp20.000, maka secara simbolik satu dolar masih “sebungkus nasi Padang”. Artinya, rupiah memang sedang tertekan, tetapi daya hidup ekonomi domestik belum patah. Warung masih memasak. Konsumen masih membeli. Rantai pasok pangan masih bergerak. Dapur ekonomi rakyat belum padam.
Namun, kalimat “ekonomi baik-baik saja” perlu dibaca dengan kepala dingin. Kalau yang dimaksud adalah ekonomi tidak sedang runtuh, iya, argumen itu masih punya dasar. BPS mencatat ekonomi Indonesia triwulan I-2026 tumbuh 5, 61 persen year-on-year, sementara inflasi Mei 2026 berada di 3, 08 persen year-on-year. Ini menunjukkan mesin ekonomi masih berjalan, konsumsi belum mati, dan kenaikan harga masih berada dalam batas yang relatif terkendali.
Tetapi kalau yang dimaksud “tidak ada masalah sama sekali”, tentu tidak tepat. Rupiah yang mendekati Rp18.000 per dolar tetap memberi tekanan, terutama pada barang impor, bahan baku industri, energi, pangan impor, biaya logistik, dan beban utang valas. Bank Indonesia bahkan menaikkan BI-Rate menjadi 5, 75 persen pada RDG 17–18 Juni 2026, sebuah sinyal bahwa stabilitas rupiah memang sedang dijaga secara serius.
Maka, nasi Padang memberi pelajaran penting: ekonomi Indonesia kuat bukan karena dolar murah, tetapi karena ekonomi domestiknya dalam. Indonesia punya pasar besar, konsumsi rumah tangga besar, UMKM yang lentur, dan budaya pangan yang sangat lokal. Di banyak negara, satu dolar mungkin hanya membeli air mineral kecil. Di Indonesia, pada titik tertentu, satu dolar masih bisa mendekati seporsi makan rakyat.
Di situlah kekuatan rupiah yang sering tidak terbaca oleh grafik valas. Nilai mata uang bukan hanya angka terhadap dolar, tetapi juga kemampuan membeli kebutuhan riil di dalam negeri. Selama rakyat masih bisa makan layak dengan harga yang relatif terjangkau, ekonomi punya bantalan sosial. Selama nasi Padang belum menjadi barang mewah, daya tahan masyarakat masih bekerja.
Namun negara tidak boleh terlena oleh romantisme sebungkus nasi. Harga nasi Padang murah bukan alasan untuk menormalisasi pelemahan rupiah. Justru sebaliknya, ia harus menjadi alarm: jangan sampai tekanan kurs merembes menjadi kenaikan harga cabai, beras, daging, minyak, LPG, dan transportasi. Kalau bahan baku ikut naik, maka satu bungkus nasi Padang yang hari ini masih “satu dolar” besok bisa menjadi dua atau tiga dolar.
Kesimpulannya, ungkapan “jika kurs dolar masih sebungkus nasi Padang, ekonomi Indonesia baik-baik saja” kuat sebagai opini publik, tetapi harus diberi catatan. Ia benar sebagai simbol daya tahan ekonomi rakyat. Ia benar sebagai kritik terhadap kepanikan berlebihan setiap kali rupiah melemah. Tetapi ia tidak boleh dipakai untuk menutup mata terhadap tekanan kurs, inflasi pangan, dan beban biaya hidup.
Rupiah boleh naik-turun di layar pasar uang. Tetapi ukuran paling jujur tetap ada di meja makan rakyat. Selama satu dolar masih bisa mendekati sebungkus nasi Padang, Indonesia belum kalah. Namun tugas negara adalah memastikan besok, lusa, dan tahun depan, sebungkus nasi Padang tetap terjangkau oleh rakyatnya sendiri.
Jakarta, 23 Juni 2026
Dr. Ir. Hendri, ST., MT
Ketua Umum Jurnalis Nasional Indonesia

















































