BARRU - Sebuah inovasi desa yang brilian telah menyulap fungsi dasar penampungan air (embung) menjadi salah satu destinasi wisata paling menarik di Kabupaten Barru, Sulawesi Selatan.
Embung Paccekke, yang terletak di Desa Paccekke, Kecamatan Soppeng Riaja, kini ramai dikunjungi wisatawan berkat perpaduan fungsi konservasi air, keindahan alam perbukitan yang asri, dan nilai sejarah yang kental.
Awalnya dibangun pada tahun 2018 dengan skema padat karya melalui Dana Desa, Embung Paccekke bertujuan utama untuk memenuhi kebutuhan air masyarakat, terutama untuk mengairi lahan pertanian dan perkebunan saat musim kemarau.
Namun, pemandangan yang disajikannya air jernih yang memantulkan hijaunya perbukitan dan hamparan sawah membuat embung ini secara alami bertransformasi menjadi objek wisata.
"Kehadiran Embung Paccekke tidak hanya menjadi solusi pengairan, tetapi juga mengangkat perekonomian warga desa melalui sektor pariwisata, " ujar Camat Soppeng Riaja, Hidayatuddin, S.STP., MH., Selasa (18/11/2025).
Bagi para pemburu spot foto unik, Embung Paccekke menawarkan daya tarik visual yang tak tertandingi. Dari ketinggian, bentuk embung ini sekilas menyerupai lambang hati atau lambang cinta, menjadikannya latar belakang sempurna untuk mengabadikan momen bersama keluarga atau pasangan.
Pengunjung dapat:
- Bersantai di gazebo yang tersedia sambil menikmati udara dingin khas daerah pegunungan (Paccekke sendiri dalam bahasa Bugis berarti 'dingin').
- Berenang atau bermain air di embung dengan air yang segar.
- Berfoto dengan latar belakang pemandangan perbukitan dan sawah yang berjejer rapi.
Tak hanya keindahan alam, Paccekke juga dikenal sebagai Kampung Laskar dan menyimpan nilai sejarah tinggi.
Lokasinya yang berdekatan dengan Monumen Paccekke situs bersejarah lahirnya Tentara Rakyat Indonesia (TRI) Divisi Hasanuddin yang menjadi cikal bakal Kodam XIV/Hasanuddin pada tahun 1947 menawarkan pengalaman wisata edukasi sejarah yang langka.
Embung Paccekke berjarak sekitar 27-30 kilometer dari ibu kota Kabupaten Barru. Meskipun perjalanan menuju lokasi melewati jalanan yang meliuk dan mendaki, hal ini justru menjadi tantangan menarik bagi wisatawan pecinta wisata alam dan off-road ringan.
Pemerintah Desa Paccekke terus berkomitmen melengkapi sarana prasarana, seperti area parkir, toilet umum, hingga sarana olahraga.
Bahkan, pengunjung bisa menjadwalkan kunjungan bertepatan dengan tradisi adat lokal seperti Mappadendang dan Mattojang (ayunan raksasa) untuk pengalaman budaya yang lebih kaya.
Embung Paccekke adalah bukti nyata bahwa inovasi berbasis desa mampu menciptakan destinasi wisata yang berkelanjutan, memadukan fungsi ekologis, ekonomi, dan budaya.



































:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/bola/watermark-color-landscape-new.png,598,20,0)/kly-media-production/medias/4849524/original/085214000_1717171762-19_WhatsApp_Image_2024-05-31_at_22.15.20__1_.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382095/original/065022200_1760528961-nova_arianto.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382025/original/028973600_1760525453-IMG_6059.jpeg)