BARRU - "Berani masuk, berani basah." Kalimat itu bukan sekadar kiasan bagi Wakil Bupati Barru, Abustan A. Bintang.
Saat menghadiri Pesta Panen Adat Paenge Ma’jimpo-jimpo di Dusun Birue, Desa Siawung, Senin (27/4/2026), orang nomor dua di Kabupaten Barru ini rela basah kuyup disiram air oleh warga sebagai bagian dari ritual adat yang sakral sekaligus penuh kegembiraan.
Kehadiran Abustan dalam acara bertema “Menanam Harapan, Menuai Berkah, Melestarikan Budaya” ini merupakan representasi dukungan penuh pemerintah terhadap tradisi lokal yang baru saja dinobatkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTb) Nasional tahun 2025.
Momen menarik terjadi ketika prosesi Majimpo-jimpo berlangsung. Tanpa sekat, Abustan membaur di tengah masyarakat.
Guyuran air dari gayung para warga menerjang pakaian dinasnya hingga basah kuyup. Bukannya menghindar, Abustan justru melempar senyum lebar, menandakan penghormatan terhadap simbol keberkahan dan penyucian diri yang dipercayai masyarakat setempat.
"Ibu Bupati sebenarnya siap juga ‘dibasahi’ kalau hadir di sini. Ini adalah bagian dari tradisi dan kebersamaan yang harus kita jaga bersama, " ujar Abustan dengan nada santai yang disambut gelak tawa dan tepuk tangan meriah dari warga.
Kegiatan tahunan ini kian istimewa dengan penyerahan Sertifikat WBTb Indonesia untuk Pesta Panen Adat Paenge Ma’jimpo-jimpo. Sertifikat tersebut diserahkan oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, Andi Milawaty Abustan, kepada pemangku adat setempat.
Ketua Panitia, A. Pananrangi, mengungkapkan bahwa pengakuan nasional ini adalah buah dari konsistensi warga menjaga tradisi selama ratusan tahun. Dengan status baru ini, Paenge Ma’jimpo-jimpo resmi bersanding dengan warisan budaya Barru lainnya seperti Marakka Bola dan Tari Sere Api.
Di balik kemeriahan ritual siram-siraman, Abustan mengingatkan pentingnya menjaga ekologi Dusun Birue yang sejarahnya bermula dari penemuan sumber air di wilayah tandus.
“Kalau pohon hilang, maka air juga bisa hilang. Mari kita pelihara lingkungan ini. Saya juga mendorong agar kegiatan ini masuk dalam kalender resmi pariwisata daerah agar daya tariknya bisa menjangkau wisatawan nasional, ” tegasnya.
Acara yang turut dihadiri anggota DPRD Barru Herman Jaya, unsur Forkopimda, serta warga dari berbagai daerah seperti Parepare, Soppeng, hingga Luwu ini ditutup dengan prosesi Mappasili dan makan bersama.
Sebuah potret nyata di mana pejabat dan rakyat melebur dalam satu wadah budaya, demi menjaga identitas yang telah diwariskan turun-temurun.










































