Bukittinggi – Bahasa Minangkabau tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga menjadi pilar utama yang mengokohkan identitas dan karakter masyarakat Minangkabau. Bahasa daerah tersebut mencerminkan adat, budaya, nilai-nilai, serta sejarah yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Hal itu disampaikan Gubernur Sumatera Barat, Mahyeldi Ansharullah, yang diwakili Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Ahmad Zaki saat membuka Seminar Kebudayaan dalam rangka International Minangkabau Literacy Festival (IMLF) ke-4, Jumat (5/6/2026), di UPT Perpustakaan Proklamator Bung Hatta.
Seminar tersebut menghadirkan sejumlah narasumber dari dalam dan luar negeri, di antaranya Ketua LKAAM Bukittinggi Fery Chofa, SH, LL.M, Prithviraj Bhaskarrao Taur dari India, Pimpinan Perguruan Diniyah Puteri Padang Panjang Prof. Dr. Fauziah Fauzan, M.Pd., serta Laura Di Corcia, penyair, praktisi, dan kritikus sastra asal Swiss. Kegiatan itu turut dihadiri Wakil Wali Kota Bukittinggi Ibnu Asis, Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Sumatera Barat Jumaidi, Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar Syaiful Bahri, serta Ketua IMLF-4 Sastri Bakry.
Dalam sambutannya, Mahyeldi menegaskan bahwa bahasa Minangkabau merupakan cerminan budaya dan tradisi masyarakat Minang. Berbagai ungkapan, peribahasa, serta istilah yang terkandung di dalamnya merefleksikan nilai-nilai kehidupan dan kearifan lokal yang diwariskan oleh para leluhur.
“Penggunaan bahasa Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari merupakan bentuk penghormatan terhadap warisan budaya dan adat istiadat yang telah diwariskan turun-temurun, ” ujarnya.
Namun demikian, Mahyeldi mengingatkan bahwa bahasa Minangkabau saat ini menghadapi ancaman serius. Menurutnya, berbagai penelitian dan pengamatan menunjukkan bahwa tanpa upaya pelestarian yang sistematis, bahasa ibu masyarakat Minangkabau berpotensi mengalami kemunduran bahkan terancam punah dalam beberapa dekade mendatang.
“Saat ini anak-anak mulai merasa asing dengan bahasa daerah di rumah sendiri. Era digital mempercepat jarak generasi muda dari akar budayanya. Akibatnya, generasi penerus kehilangan akses terhadap khazanah sastra, petatah-petitih, dan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam bahasa Minangkabau, ” katanya.
Karena itu, Mahyeldi menekankan bahwa pelestarian bahasa Minangkabau merupakan tanggung jawab bersama seluruh elemen masyarakat Sumatera Barat. Pemerintah daerah, menurutnya, tidak dapat bekerja sendiri tanpa dukungan masyarakat secara kolektif.
Ia menilai lingkungan keluarga menjadi benteng pertama dan terpenting dalam menjaga keberlangsungan bahasa daerah. Penggunaan bahasa Minangkabau dalam komunikasi sehari-hari di rumah harus terus dipertahankan agar generasi muda tetap mengenal dan mencintai bahasa ibunya.
Lebih lanjut, Mahyeldi menyebutkan bahwa budaya Minangkabau memiliki kekayaan dan keunikan yang luar biasa, salah satunya melalui falsafah “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Minangkabau dan mencerminkan keterpaduan antara adat dan ajaran Islam.
Namun, perkembangan globalisasi turut membawa tantangan besar terhadap pelestarian budaya daerah. Perubahan pola pikir, bahasa, serta gaya hidup yang semakin berkiblat pada budaya luar menyebabkan sebagian nilai budaya lokal mulai mengalami pergeseran.
“Saat ini fenomena Korean Wave atau budaya populer Korea menjadi salah satu tantangan dalam menjaga identitas nasional dan melestarikan budaya lokal. Karena itu, diperlukan upaya bersama untuk memperkuat kecintaan generasi muda terhadap budaya daerahnya sendiri, ” ujarnya.
Menurut Mahyeldi, Seminar Kebudayaan yang digelar dalam rangka IMLF-4 menjadi momentum penting untuk membahas sekaligus merefleksikan arah perkembangan budaya Minangkabau, terutama dalam aspek bahasa dan pembentukan akhlak generasi muda yang menghadapi berbagai tantangan zaman.
Pada kesempatan yang sama juga dilakukan peluncuran 100 buku karya delegasi IMLF-4, penulis Sumatera Barat, dan penulis dari berbagai daerah di Indonesia. Peluncuran ratusan buku tersebut menjadi salah satu rangkaian kegiatan International Minangkabau Literacy Festival ke-4 yang bertujuan memperkuat tradisi literasi sekaligus mendukung pelestarian budaya dan bahasa Minangkabau melalui karya tulis.(**)








































