Menjelang Ulang Tahunnya, Eyang Ratih Sapa Penggemar dan Tebar Pesan Harmoni

1 week ago 5

"Selamat Ulang Tahun Eyang Ratih 27 Januari 2026"

DENPASAR - Eyang Ratih yang merupakan seorang tokoh spiritual, praktisi kejawen, dan paranormal senior di Indonesia, mencoba untuk menyapa para sahabatnya melalui akun Tiktok dan Youtube pribadinya. Kondisinya yang baru pulih dari sakitnya tetap menunjukan keramahan dan keceriaan saat menyambut antusias penggemarnya di Tiktok.

Seorang perempuan kelahiran Kota Surabaya tahun 1959 ini disapa salah satu penggemarnya Senin 26 Januari 2026 selamat ulang tahun yang dijawabnya ramah, "Eyang besok ulang tahunnya, ayo sini makan soto eyang bikin soto, " Sahutnya ramah.

Awak media yang bertandang kerumahnya pun tak sabar ingin menanyakan ramalan dan fenomena apa yang bisa diceritakan untuk kedepannya melihat banyaknya bencana di Tanah air silih berganti.

Ia menekankan pentingnya harmoni dengan alam, etika dan menjaga keseimbangan untuk menghindari bencana. Pentingnya kejujuran, etika, dan hati nurani, terutama bagi anak muda jaman sekarang. Baginya kehadiran, perhatian, dan energi positif juga merupakan bentuk pemberian yang tulus.

Secara keseluruhan, Eyang Ratih adalah figur spiritual yang dihormati, dikenal dengan ramalan dan ajaran kebatinan yang berakar pada tradisi leluhur.

Awak media yang hadir juga disuguhkan jajanan tradisional yang sempat sedikit ngomel sama penyuguh jajanannya yang membuat geli awak media yang hadir.

"Wah kok gitu, sedikit amat keluarin jajannya ayo keluarin semuanya, " Perintahnya, tentu itu membuat para tamu merasa dihormati.

Eyang Ratih yang memiliki nama asli Harimastuti juga sempat mewanti - wanti sebentar lagi Imlek dan membawa simbol Kuda Api. Memang Kuda Api itu pemberani dan semangat tetapi mereka membawa api yang artinya akan banyak fitnah disana.

"Orang akan berlomba - lomba mencari panggung, kita kadang bersuara tidak bersuara bisa saja jadi korban fitnah, " Ungkapnya mengingatkan.

Eyang juga mengumpamakan nafas manusia saat berbicara, satu orang mengeluarkan hawa panas, apalagi ribuan bahkan milyaran manusia yang memancarkan kemarahan akan membuat bumi gonjang ganjing dan bumi mengeluarkan hawa yang jelek (Hawa yang memberatkan) tersebut berupa bencana - bencana.

Eyang Ratih juga menyebutkan jaman saat ini adalah jaman kala bendu, "Kita semua seperti Beras diinteri" (atau lebih tepatnya gabah diinteri dalam bahasa Jawa) adalah peribahasa yang menggambarkan manusia yang sedang mengalami ujian kehidupan atau seleksi alam.

Dirinya juga sedikit memberikan saran kepada kegiatan MBG yang banyak dipermasalahkan akhir - akhir ini, justru bagi Eyang Ratih lebih kepada berikan saja dananya kepada keluarga si anak untuk ditugaskan memberikan bekal anak - anak mereka.

"Dengan cara itu jatah makan tidak diperkecil, dari Rp.15.000 jadi Rp. 10.000 kemudian turun jadi Rp. 8.000 kan miris jadinya, belum lagi kendala busuk karena buatnya terlalu pagi, " Ujarnya.

Pentingnya untuk mawas diri, bencana yang terjadi dimana-mana menyebabkan sawah dan lahan pertanian tidak dapat ditanami. Tapi Eyang Ratih juga menyarankan agar selalu ingat kepada Tuhan Hyang Maha Esa, karena pertolongannya akan terasa bila kita selalu berdoa padanya.

"Manusia akan sadar bila suatu waktu kita ditolong sama Tuhan, jadi selalulah ingat kepada Hyang Widhi Wasa, " Sebutnya.

Eyang Ratih juga mengungkapkan kritiknya kepada orang Bali yang saat bersembahyang malah lebih berlomba - lomba mahal - mahalan kebaya bukan pada heningnya sembahyang.

"Pakai emas secara berlomba - lomba"

Ia juga menasehati agar masyarakat banyak membantu sesama secara rutin setiap minggu dengan berderma makanan.

"Lakukan itu setiap minggu, berikanlah nasi jinggo murah meriah tetapi maknanya fungsinya yang akan kamu rasakan, berbuatlah setiap minggu kamu akan mendapatkan manfaatnya, " Pungkasnya.

Editor - Ray

Read Entire Article
Karya | Politics | | |