Djamaluddin Adinegoro, Dari Nama Samaran Menjadi Pelopor Jurnalistik Indonesia

4 hours ago 2

TOKOH - Djamaluddin Adinegoro gelar Datuak Maradjo Sutan merupakan salah seorang tokoh penting dalam sejarah pers dan sastra Indonesia. Lahir pada 14 Agustus 1904 dan wafat pada 8 Januari 1967, ia dikenal sebagai wartawan, sastrawan, penulis, pemikir kebudayaan, sekaligus salah satu perintis pendidikan jurnalistik di Indonesia.

Nama “Adinegoro” bahkan jauh lebih dikenal dibandingkan nama aslinya, Djamaluddin.

Nama itu pada awalnya hanyalah sebuah samaran. Namun perjalanan hidup membuat nama samaran tersebut berubah menjadi identitas intelektual yang dikenang dalam sejarah pers Indonesia.

Adinegoro menempuh pendidikan di STOVIA pada 1918–1925. Pada masa berikutnya, ia memperdalam jurnalistik, geografi, kartografi, politik, dan geopolitik di Jerman serta Belanda pada 1926–1930.

Pengalaman belajar di Eropa menjadikannya salah seorang wartawan Indonesia pada zamannya yang memiliki wawasan internasional luas.

Ia tidak hanya memahami bagaimana berita ditulis, tetapi juga bagaimana sebuah bangsa ditempatkan di dalam peta politik dunia.

Dari ruang redaksi, Adinegoro kemudian memasuki dunia pendidikan, sastra, kebudayaan, ilmu pengetahuan, hingga kelembagaan pers nasional.

Lahir sebagai Djamaluddin

Nama asli Adinegoro adalah Djamaluddin. Ayahnya bernama Usman gelar Baginda Chatib, sedangkan ibunya bernama Sadarijah.

Dalam keluarganya, Djamaluddin memiliki hubungan saudara dengan Muhammad Yamin, yang kemudian dikenal sebagai sastrawan, pemikir, dan tokoh pergerakan nasional Indonesia.

Djamaluddin dan Muhammad Yamin merupakan saudara satu ayah tetapi berbeda ibu. Ibu Muhammad Yamin bernama Siti Saadah.

Kedua bersaudara tersebut kemudian menempuh jalan kehidupan masing-masing, tetapi sama-sama meninggalkan jejak penting dalam perjalanan intelektual Indonesia.

Muhammad Yamin dikenal melalui sastra, politik, sejarah, dan gagasan kebangsaan. Sementara Djamaluddin justru membangun namanya melalui jurnalistik, sastra, pendidikan pers, serta berbagai karya pengetahuan.

Djamaluddin kelak menikah dengan Alidas, perempuan asal Sulik Aia, X Koto Diateh, Kabupaten Solok, Sumatera Barat.

Ketika Menulis Harus Menggunakan Nama Samaran

Salah satu bagian menarik dalam kehidupan Djamaluddin terjadi ketika ia masih menjadi pelajar STOVIA.

Pada masa itu, siswa STOVIA tidak diperbolehkan menulis secara bebas untuk media. Padahal, keinginan Djamaluddin untuk menulis sangat besar. Ia memiliki banyak gagasan dan merasa perlu menyampaikannya melalui tulisan.

Larangan sekolah justru melahirkan sebuah jalan keluar yang kelak mengubah hidupnya. Djamaluddin menggunakan nama samaran: Adinegoro. Dengan nama itu, ia dapat terus menulis dan mengirimkan tulisan kepada media tanpa mudah diketahui bahwa penulisnya adalah seorang pelajar STOVIA bernama Djamaluddin.

Nama tersebut awalnya merupakan perlindungan. Namun semakin banyak ia menulis, semakin dikenal pula nama Adinegoro. Lambat laun masyarakat mengenal Adinegoro sebagai penulis dan wartawan, sementara nama Djamaluddin justru berada di belakangnya.

Dalam perjalanan waktu, nama samaran itu menjadi jauh lebih terkenal daripada nama lahirnya. Adinegoro akhirnya bukan lagi sekadar nama pena. Ia menjadi identitas seorang wartawan dan intelektual.

STOVIA dan Persimpangan Jalan Kehidupan

Adinegoro belajar di STOVIA sejak 1918 hingga 1925. STOVIA merupakan sekolah pendidikan kedokteran bumiputra yang juga melahirkan banyak tokoh pergerakan nasional. Namun, jalan hidup Adinegoro ternyata tidak sepenuhnya mengarah kepada dunia kedokteran.

Ketertarikannya terhadap tulisan, berita, dunia internasional, politik, dan kehidupan masyarakat semakin kuat. Ia lebih tertarik membaca dunia melalui surat kabar dibandingkan melalui ruang praktik kedokteran.

Jurnalistik menawarkan sesuatu yang berbeda. Melalui tulisan, seseorang dapat menyampaikan gagasan kepada ribuan pembaca.

Sebuah artikel dapat memperkenalkan pembaca di Hindia Belanda kepada perubahan politik di Eropa, perkembangan ekonomi dunia, atau persoalan kebudayaan yang sedang diperdebatkan.

Adinegoro melihat kekuatan tersebut sejak usia muda. Ia kemudian memilih jalan jurnalistik sebagai salah satu panggilan terbesar dalam hidupnya.

Memulai Karier di Majalah Caya Hindia

Karier jurnalistik Adinegoro dimulai ketika ia menjadi pembantu tetap majalah Caya Hindia. Setiap minggu ia menulis artikel mengenai persoalan luar negeri. Pilihan tema tersebut memperlihatkan keluasan minatnya.

Pada masa ketika akses informasi internasional masih terbatas, tulisan mengenai perkembangan luar negeri memiliki arti penting bagi pembaca di Hindia Belanda. Adinegoro berusaha membawa dunia yang jauh menjadi lebih dekat. Ia menulis tentang berbagai perkembangan politik dan masyarakat internasional dengan bahasa yang dapat dipahami pembaca.

Kebiasaan tersebut kelak semakin kuat setelah ia memperoleh kesempatan belajar langsung di Eropa.

Berangkat ke Eropa

Pada 1926, Adinegoro berangkat ke Eropa. Perjalanan tersebut menjadi salah satu titik penting dalam pembentukan dirinya sebagai wartawan. Ia tinggal dan belajar selama beberapa tahun, terutama di Jerman dan Belanda. Di Berlin, Jerman, Adinegoro memperdalam jurnalistik.

Namun ia tidak berhenti pada satu disiplin. Ia juga mempelajari geografi, kartografi, politik, serta geopolitik. Kombinasi bidang tersebut memperlihatkan cara berpikir yang sangat luas.

Bagi seorang wartawan, memahami politik tanpa memahami geografi dapat menghasilkan gambaran yang tidak lengkap. Demikian pula geopolitik tidak dapat dipahami hanya melalui pidato para pemimpin.

Letak wilayah, sumber daya alam, jalur perdagangan, kekuatan militer, serta hubungan antarnegara merupakan bagian dari cerita besar dunia.

Adinegoro belajar melihat hubungan antara peta dan kekuasaan. Antara wilayah dan kepentingan. Antara berita dan struktur dunia yang melatarbelakanginya.

Pengalaman itu membuat kualitas jurnalistiknya berkembang jauh melampaui kemampuan menulis berita sehari-hari.

Menjadi Wartawan dari Eropa

Meskipun sedang belajar di luar negeri, Adinegoro tidak meninggalkan kegiatan jurnalistik. Selama periode 1926–1930, ia bekerja sebagai wartawan bebas untuk beberapa surat kabar di tanah air. Di antaranya adalah Pewarta Deli di Medan, Bintang Timur, dan Panji Pustaka di Batavia.

Dari Eropa, ia mengirimkan laporan dan tulisan kepada pembaca di Indonesia. Pekerjaan tersebut membuat Adinegoro seakan menjadi jembatan antara dua dunia.

Ia melihat langsung perubahan di Eropa, kemudian menerjemahkannya dalam bentuk tulisan untuk masyarakat di tanah air. Pada masa itu komunikasi belum berlangsung secepat zaman internet.

Berita dari Eropa membutuhkan proses panjang sebelum sampai kepada pembaca di Hindia Belanda. Karena itu, seorang wartawan yang tinggal langsung di Eropa memiliki posisi sangat penting.

Adinegoro tidak sekadar membaca telegram berita. Ia mengalami langsung atmosfer masyarakat Eropa. Pengalaman itu membuat tulisannya memiliki sudut pandang yang lebih kaya.

Melawat ke Barat

Perjalanan Adinegoro di Eropa tidak hanya menghasilkan berita. Ia juga mencatat pengalamannya dalam sebuah karya perjalanan berjudul Melawat ke Barat.

Karya tersebut berisi catatan mengenai perjalanan dan pengalaman Adinegoro di Eropa. Dalam salah satu catatan, kisah perjalanan itu disebut diterbitkan pada 1930. Dalam daftar penerbitan lainnya, Melawat ke Barat tercatat diterbitkan Balai Pustaka pada 1936 dalam tiga jilid.

Perbedaan pencatatan tersebut tidak mengurangi arti penting karya itu sebagai salah satu catatan perjalanan intelektual seorang Indonesia pada awal abad ke-20.

Bagi pembaca pada zamannya, buku semacam itu membuka jendela menuju dunia yang sulit dijangkau. Eropa tidak lagi hanya hadir sebagai nama dalam peta. Ia menjadi ruang nyata yang dapat dibaca melalui pengalaman seorang putra Indonesia.

Kembali ke Tanah Air

Setelah menyelesaikan masa belajarnya di Eropa, Adinegoro kembali ke tanah air. Ilmu yang diperoleh selama bertahun-tahun segera diterapkannya dalam dunia pers.

Pada 1931, ia dipercaya memimpin majalah Panji Pustaka. Namun, ia hanya menjalani posisi tersebut sekitar enam bulan.

Setelah itu, perjalanan karier membawanya ke Medan. Di kota tersebut, Adinegoro memimpin surat kabar Pewarta Deli sejak 1932 hingga 1942.

Sepuluh tahun memimpin sebuah surat kabar merupakan periode yang sangat panjang. Terlebih masa itu merupakan zaman penuh perubahan.

Dunia sedang bergerak menuju Perang Dunia II. Gerakan nasionalisme semakin berkembang. Perdebatan mengenai masa depan Indonesia semakin kuat. Surat kabar menjadi arena tempat gagasan, berita, politik, budaya, dan kepentingan bertemu. Sebagai pemimpin media, Adinegoro berada di tengah berbagai perubahan tersebut.

Membangun Pewarta Deli

Di bawah kepemimpinannya, Pewarta Deli menjadi bagian penting dalam kehidupan pers di Sumatra. Adinegoro membawa pengalaman jurnalistik yang diperolehnya dari Eropa. Ia memahami bahwa surat kabar tidak hanya membutuhkan keberanian.

Media juga membutuhkan disiplin editorial, ketelitian, pemahaman isu, serta kemampuan menempatkan peristiwa lokal dalam konteks yang lebih luas.

Medan pada masa itu merupakan kota perdagangan yang dinamis. Berbagai komunitas hidup berdampingan.

Perkebunan, perdagangan, pelabuhan, gerakan politik, dan kehidupan kebudayaan menciptakan lingkungan yang kaya bagi jurnalistik. Di ruang redaksi itulah Adinegoro semakin matang sebagai pemimpin pers.

Melewati Masa Pendudukan Jepang

Ketika Jepang menduduki Indonesia pada 1942, kehidupan pers berubah secara drastis. Media berada dalam pengawasan ketat pemerintah pendudukan.

Kebebasan jurnalistik sangat terbatas dan surat kabar banyak digunakan sebagai alat komunikasi pemerintahan. Dalam periode tersebut, Adinegoro pernah memimpin Sumatra Shimbun selama sekitar dua tahun. Ia juga pernah menjadi anggota Tjuo Sangi In, sebuah badan penasihat yang dibentuk pemerintah pendudukan Jepang pada periode 1942–1945.

Masa pendudukan merupakan periode yang sangat kompleks bagi para wartawan dan intelektual Indonesia. Mereka harus hidup di bawah pemerintahan militer, sekaligus melihat berkembangnya peluang menuju kemerdekaan.

Banyak keputusan yang diambil pada masa itu tidak dapat dilepaskan dari tekanan politik dan keadaan perang.

Adinegoro melewati periode tersebut sebagai seorang wartawan yang telah memiliki pengalaman panjang dalam memahami perubahan politik dunia.

Memasuki Indonesia Merdeka

Setelah Indonesia merdeka, Adinegoro tetap berada dalam dunia pers. Negara baru membutuhkan media untuk menyampaikan informasi, membangun kesadaran nasional, serta mempertemukan berbagai gagasan mengenai masa depan.

Pada periode 1948–1950, bersama Prof. Dr. Supomo, Adinegoro memimpin majalah Mimbar Indonesia. Nama Supomo sendiri sangat dikenal dalam sejarah ketatanegaraan Indonesia sebagai salah seorang ahli hukum yang terlibat dalam proses pembentukan negara.

Kolaborasi keduanya memperlihatkan hubungan erat antara pers dan kehidupan intelektual pada masa awal kemerdekaan.

Mimbar Indonesia menjadi salah satu ruang tempat gagasan politik, kebudayaan, ilmu pengetahuan, dan kehidupan nasional dibicarakan.

Membangun Biro Pers Indonesia

Pada 1951, Adinegoro memimpin Yayasan Pers Biro Indonesia. Kegiatan itu memperlihatkan bahwa perhatiannya tidak hanya kepada isi media. Ia juga memikirkan kelembagaan pers.

Indonesia yang baru merdeka membutuhkan sistem informasi nasional yang dapat bekerja secara profesional.

Kantor berita memiliki peranan penting karena menjadi sumber informasi bagi berbagai surat kabar. Berita dari satu daerah dapat disebarkan kepada media di wilayah lain.

Dalam sistem tersebut, kecepatan dan akurasi menjadi dua unsur utama. Pengalaman panjang Adinegoro sebagai wartawan membuatnya memahami pentingnya sebuah kantor berita bagi negara yang memiliki wilayah begitu luas.

Mengabdi di Kantor Berita Nasional

Pada bagian akhir perjalanan profesionalnya, Adinegoro bekerja di Kantor Berita Nasional yang kemudian menjadi bagian dari perkembangan LKBN Antara. Ia terus mengabdikan diri di dunia kantor berita hingga akhir hayatnya.

Dalam catatan perjalanan kariernya, ia juga pernah menduduki posisi Presiden Komisaris LKBN Antara.

Antara memiliki peranan strategis dalam sejarah pers nasional. Kantor berita tersebut menghubungkan berbagai daerah serta menyediakan informasi kepada media.

Bagi Adinegoro, bekerja di kantor berita merupakan kelanjutan alami dari perjalanan panjang yang telah dimulai sejak masa muda.

Dari seorang penulis dengan nama samaran, ia berkembang menjadi salah satu tokoh penting dalam kelembagaan pers nasional.

Membangun Pendidikan Jurnalistik

Salah satu warisan penting Adinegoro adalah perhatiannya terhadap pendidikan wartawan. Ia ikut mendirikan Perguruan Tinggi Jurnalistik di Jakarta. Ia juga terlibat dalam pembangunan Fakultas Publisistik dan Jurnalistik Universitas Padjadjaran.

Langkah tersebut sangat penting karena pada masa awal perkembangan pers Indonesia, banyak wartawan belajar terutama melalui praktik langsung di ruang redaksi.

Adinegoro memahami bahwa jurnalistik juga membutuhkan pendidikan yang terstruktur. Wartawan harus mempelajari teknik penulisan berita, etika, hukum pers, politik, ekonomi, masyarakat, sejarah, bahkan geografi.

Pengalaman belajarnya sendiri di Eropa menjadi contoh bahwa seorang wartawan membutuhkan pengetahuan multidisiplin.

Berita internasional tidak dapat ditulis dengan baik tanpa memahami hubungan antarnegara.

Berita ekonomi membutuhkan pemahaman terhadap perdagangan.

Berita politik membutuhkan pengetahuan mengenai pemerintahan.

Karena itu, pendidikan jurnalistik harus mampu membentuk wartawan yang memiliki wawasan luas.

Wartawan yang Masuk ke Ruang Kenegaraan

Kiprah Adinegoro tidak terbatas pada ruang redaksi. Ia juga pernah menjadi anggota Dewan Perancang Nasional dan anggota MPRS. Selain itu, ia pernah menjadi Ketua Dewan Komisaris Penerbit Gunung Agung.

Keterlibatan tersebut menunjukkan keluasan jaringan dan pengaruh seorang wartawan dalam kehidupan nasional. Namun, posisi seperti itu juga memperlihatkan satu persoalan yang selalu dihadapi jurnalis: bagaimana menjaga hubungan antara pers dan kekuasaan.

Seorang wartawan perlu memahami pemerintah, tetapi tetap harus mempertahankan kemampuan untuk menilai peristiwa secara kritis.

Pengalaman Adinegoro berlangsung pada zaman ketika batas antara wartawan, sastrawan, aktivis, akademisi, dan tokoh politik sering kali tidak setegas pada masa sekarang.

Banyak intelektual Indonesia menjalankan beberapa peran sekaligus. Mereka menulis, mengajar, berorganisasi, serta terlibat langsung dalam pembangunan negara.

Seorang Wartawan yang Juga Sastrawan

Meskipun kemudian lebih dikenal sebagai wartawan, Adinegoro memiliki tempat penting dalam sejarah sastra Indonesia.

Pada masa awal kariernya, ia aktif menulis karya sastra. Ia termasuk salah seorang sastrawan pada periode awal Angkatan Balai Pustaka. Dua novel yang paling dikenal adalah Darah Muda dan Asmara Jaya.

Dalam satu bagian catatan mengenai karya Adinegoro, kedua novel tersebut disebut dibuat pada sekitar 1928.

Sementara dalam catatan bibliografis lain, Darah Muda disebut diterbitkan Balai Pustaka pada 1926, sedangkan Asmara Jaya diterbitkan pada 1927.

Terlepas dari perbedaan pencatatan tahun tersebut, keduanya menjadi karya penting yang menempatkan Adinegoro di antara para novelis awal Indonesia.

Darah Muda dan Perlawanan terhadap Adat

Novel Darah Muda memperlihatkan keberanian Adinegoro dalam membahas persoalan generasi muda dan adat.

Pada masa itu, salah satu tema besar dalam sastra Indonesia adalah hubungan antara tradisi dan perubahan. Generasi muda yang memperoleh pendidikan baru mulai mempertanyakan aturan-aturan lama. Salah satu persoalan yang sering muncul adalah perkawinan.

Apakah seseorang berhak memilih pasangan hidupnya sendiri?

Atau keputusan tersebut harus mengikuti kehendak keluarga dan adat?

Adinegoro memasukkan konflik semacam itu ke dalam karyanya. Ia tidak hanya menggambarkan pertentangan. Ia juga memperlihatkan keberpihakan kepada generasi muda yang berusaha menentukan masa depannya sendiri.

Asmara Jaya dan Keberanian Kaum Muda

Tema serupa juga terlihat dalam Asmara Jaya. Ajip Rosidi dalam Ikhtisar Sejarah Sastra Indonesia menilai Adinegoro sebagai salah seorang pengarang yang berani melangkah lebih jauh dalam menentang adat perkawinan lama.

Menurut penilaian tersebut, Adinegoro tidak sekadar memperlihatkan pertentangan antara kaum tua dan kaum muda. Dalam romannya, ia bahkan memberikan kemenangan kepada pihak generasi muda yang melawan adat yang dianggap tidak lagi sesuai.

Sikap tersebut penting apabila ditempatkan dalam keadaan sosial ketika novel ditulis. Sastra menjadi ruang untuk menguji gagasan baru. Perdebatan yang sulit dilakukan secara langsung dapat disampaikan melalui tokoh-tokoh fiksi. Dengan demikian, novel tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Ia menjadi ruang perubahan sosial.

Ketika Sastra Menjadi Jalan Menyampaikan Gagasan

Adinegoro tidak menulis sastra sepanjang hidupnya. Kegiatan sastra terutama kuat pada masa awal karier.

Setelah itu, perhatian utamanya semakin besar kepada jurnalistik dan dunia pengetahuan. Namun, pengalaman sebagai sastrawan tetap memengaruhi caranya menulis.

Seorang novelis harus memahami manusia. Ia harus mampu melihat konflik, keinginan, ketakutan, dan perubahan karakter. Kemampuan tersebut juga sangat berguna bagi wartawan.

Berita yang baik tidak hanya berisi angka dan pernyataan. Di dalam setiap peristiwa terdapat manusia. Adinegoro mempertemukan kedua dunia tersebut: ketelitian jurnalistik dan kepekaan seorang sastrawan.

Menulis Cerita Pendek

Selain novel, Adinegoro juga menghasilkan sejumlah cerita pendek. Beberapa di antaranya adalah Bayati es Kopyor, yang diterbitkan dalam majalah Varia pada 1961. Ia juga menulis Etsuko, yang terbit dalam Varia pada tahun yang sama.

Cerita pendek Lukisan Rumah Kami diterbitkan dalam Djaja pada 1963. Sementara Nyanyian Bulan April tercatat dimuat dalam Varia pada 1963.

Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa meskipun hidupnya sangat kuat di dunia pers, ketertarikan terhadap sastra tidak benar-benar hilang.

Pada masa akhir hidupnya pun ia masih menggunakan cerita sebagai cara mengekspresikan pengalaman dan pemikiran.

Terlibat dalam Polemik Kebudayaan

Adinegoro juga mengambil bagian dalam salah satu perdebatan intelektual penting Indonesia: Polemik Kebudayaan sekitar 1930-an.

Perdebatan tersebut membahas arah kebudayaan Indonesia. Haruskah bangsa yang sedang dibangun mengadopsi kebudayaan Barat?

Sejauh mana tradisi lokal harus dipertahankan?

Apakah modernisasi berarti meninggalkan kebudayaan sendiri?

Adinegoro ikut memberikan pandangan melalui esai berjudul Kritik atas Kritik.

Tulisan tersebut kemudian dihimpun dalam buku Polemik Kebudayaan yang disunting Achdiat K. Mihardja.

Dalam pandangannya, kebudayaan tidak dapat begitu saja dipindahkan dari satu bangsa ke bangsa lain.

Setiap masyarakat memiliki tabiat, pengalaman sejarah, serta karakter yang berkembang dalam lingkungan masing-masing. Ia menggunakan perumpamaan sederhana.

Pohon rambutan tidak akan menghasilkan buah mangga, dan pohon mangga tidak akan menghasilkan rambutan. Melalui perumpamaan tersebut, Adinegoro ingin menunjukkan bahwa modernisasi tidak harus berarti meniru bangsa lain. Indonesia harus memahami dirinya sendiri sambil belajar dari dunia luar.

Antara Barat dan Identitas Indonesia

Pandangan tersebut menarik apabila dikaitkan dengan kehidupan Adinegoro. Ia sendiri pernah belajar bertahun-tahun di Eropa. Ia mempelajari jurnalistik, politik, geopolitik, kartografi, dan berbagai pengetahuan Barat. Namun, pengalaman tersebut tidak membuatnya berpikir bahwa Indonesia harus menjadi salinan Eropa.

Justru setelah melihat dunia luar, ia semakin memahami pentingnya karakter bangsa. Belajar dari luar berbeda dengan meniru. Pengetahuan dapat diambil, tetapi harus disesuaikan dengan keadaan masyarakat sendiri.

Pemikiran ini menjadi salah satu tema penting bagi banyak intelektual Indonesia pada masa menjelang dan setelah kemerdekaan. Mereka ingin menjadi modern tanpa kehilangan identitas.

Membuat Atlas Pertama Berbahasa Indonesia

Salah satu karya Adinegoro yang sangat penting tetapi kadang kurang dikenal adalah keterlibatannya dalam pembuatan atlas berbahasa Indonesia.

Pada 1950, atas ajakan koleganya Mattheus van Randwijk, Adinegoro mulai mengerjakan atlas dari Amsterdam, Belanda. Dalam proyek tersebut, ia bekerja bersama Adam Bachtiar dan Sutopo. Latar belakang Adinegoro dalam kartografi dan geografi sangat berguna. Ia tidak hanya memahami penulisan, tetapi juga mengetahui bagaimana peta dibuat dan bagaimana informasi geografis disusun.

Kerja mereka kemudian menghasilkan Atlas Semesta Dunia pada 1952. Atlas tersebut disebut sebagai atlas pertama yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia setelah kemerdekaan.

Membawa Dunia ke Ruang Kelas Indonesia

Penerbitan Atlas Semesta Dunia memiliki arti besar bagi pendidikan. Sebuah negara yang baru merdeka membutuhkan buku pelajaran dalam bahasa sendiri.

Selama masa kolonial, banyak sumber ilmu pengetahuan menggunakan bahasa Belanda atau bahasa asing lainnya.

Kemerdekaan tidak cukup hanya dengan memiliki pemerintahan sendiri. Bangsa juga membutuhkan perangkat ilmu pengetahuan dalam bahasa nasional.

Atlas membantu siswa memahami bentuk dunia. Mereka dapat melihat batas negara, gunung, sungai, laut, benua, serta posisi Indonesia dalam lingkungan internasional.

Pada tahun yang sama, Adinegoro dan rekan-rekannya juga menerbitkan Atlas Semesta Dunia untuk Sekolah Landjutan.

Karya tersebut memperlihatkan kepeduliannya terhadap pendidikan generasi muda. Pengetahuan geografi yang dahulu ia pelajari di Eropa kini digunakan untuk membantu anak-anak Indonesia memahami dunia.

Menyusun Ensiklopedia dalam Bahasa Indonesia

Dua tahun kemudian, pada 1954, Adinegoro kembali menghasilkan karya penting. Ia menerbitkan Ensiklopedi Umum Dalam Bahasa Indonesia. Karya tersebut disebut sebagai salah satu ensiklopedia pertama dalam bahasa Indonesia.

Penerbitan ensiklopedia memiliki arti besar bagi bangsa yang sedang membangun sistem pendidikan. Ensiklopedia menghimpun berbagai pengetahuan dalam satu sumber.

Pembaca dapat memperoleh informasi mengenai tokoh, tempat, ilmu pengetahuan, sejarah, geografi, politik, dan kebudayaan.

Melalui karya tersebut, Adinegoro kembali memperlihatkan bahwa aktivitas intelektualnya jauh melampaui jurnalistik sehari-hari. Ia ikut membangun infrastruktur pengetahuan dalam bahasa Indonesia.

Menulis Ilmu Karang-Mengarang

Kecintaannya terhadap dunia penulisan juga terlihat dalam buku Ilmu Karang-mengarang. Judul tersebut memperlihatkan perhatiannya terhadap keterampilan menulis.

Bagi Adinegoro, menulis bukan sekadar bakat. Kemampuan tersebut dapat dipelajari. Seorang penulis harus memahami struktur, bahasa, gagasan, dan pembaca.

Pengalaman puluhan tahun di ruang redaksi memberikan dasar yang kuat untuk membicarakan persoalan tersebut. Ia mengetahui bagaimana sebuah kalimat dapat membuat berita menjadi jelas atau justru membingungkan. Ia memahami bagaimana judul menentukan perhatian pembaca. Ia juga mengetahui bahwa tulisan yang baik membutuhkan pengetahuan yang cukup mengenai objek yang dibahas.

Revolusi dan Kebudayaan

Pada 1954, Adinegoro juga menerbitkan Revolusi dan Kebudayaan. Judul tersebut menggambarkan salah satu persoalan besar Indonesia setelah kemerdekaan.

Revolusi politik telah menghasilkan negara merdeka. Namun, pertanyaannya kemudian adalah: bagaimana membangun kebudayaan sebuah bangsa merdeka?

Kemerdekaan harus menghasilkan perubahan cara berpikir. Bangsa yang sebelumnya menjadi objek pemerintahan kolonial kini harus menjadi subjek yang menentukan masa depannya sendiri.

Bahasa Indonesia berkembang menjadi bahasa ilmu pengetahuan. Sekolah harus diperluas. Pers harus tumbuh. Karya sastra harus berkembang.

Dalam konteks tersebut, pemikiran Adinegoro mengenai jurnalistik, kebudayaan, dan pendidikan memiliki hubungan yang erat.

Falsafah Ratu Dunia

Adinegoro juga menghasilkan buku Falsafah Ratu Dunia. Bersama karya-karya lainnya, buku tersebut memperlihatkan keluasan bidang yang disentuhnya. Ia tidak pernah benar-benar membatasi diri pada satu disiplin.

Jurnalistik mempertemukannya dengan politik. Geografi mempertemukannya dengan geopolitik. Sastra membawanya kepada persoalan manusia dan adat. Kebudayaan mempertemukannya dengan pertanyaan mengenai identitas bangsa. Semua bidang tersebut saling berhubungan dalam kehidupan intelektualnya.

Wartawan dengan Pandangan Geopolitik

Salah satu hal yang membuat Adinegoro berbeda dari banyak wartawan pada masanya adalah latar belakangnya dalam geopolitik dan kartografi. Ia tidak melihat berita luar negeri sebagai rangkaian peristiwa terpisah.

Perubahan politik selalu berkaitan dengan ruang. Negara membutuhkan wilayah. Kekuatan ekonomi berhubungan dengan sumber daya. Pelabuhan berhubungan dengan perdagangan. Laut berkaitan dengan jalur strategis.

Pemahaman semacam itu sangat penting ketika dunia memasuki periode perang, nasionalisme, serta pembentukan negara-negara baru.

Adinegoro memahami bahwa wartawan membutuhkan konteks. Tanpa konteks, berita hanya menjadi potongan informasi. Dengan konteks, pembaca dapat memahami mengapa sebuah peristiwa terjadi dan apa pengaruhnya terhadap masa depan.

Nama yang Menjadi Penghargaan Jurnalistik

Adinegoro wafat pada 8 Januari 1967. Namun, namanya tidak berhenti bersama kepergiannya. Pada tahun 1974, ia dianugerahi gelar Perintis Pers Indonesia. Penghargaan tersebut merupakan pengakuan terhadap kontribusinya dalam membangun dunia jurnalistik nasional.

Namanya kemudian diabadikan sebagai penghargaan jurnalistik bergengsi yang diberikan kepada karya-karya pers terbaik.

Persatuan Wartawan Indonesia menyediakan penghargaan yang dikenal sebagai Hadiah Adinegoro. Bagi dunia pers, nama tersebut menjadi simbol kualitas jurnalistik.

Ironis sekaligus menarik, sebuah nama yang dahulu dibuat untuk bersembunyi dari larangan menulis justru kemudian menjadi salah satu nama paling terkenal dalam sejarah pers Indonesia.

Nama Samaran yang Menjadi Abadi

Pada masa mudanya, Djamaluddin hanya membutuhkan sebuah nama agar dapat terus menulis. Ia memilih Adinegoro.

Mungkin ketika itu ia tidak pernah membayangkan bahwa nama tersebut akan bertahan jauh melampaui masa hidupnya. Nama itu muncul dalam novel. Nama itu tercetak di surat kabar. Nama itu berada dalam buku tentang jurnalistik, atlas, ensiklopedia, dan perdebatan kebudayaan.

Pada akhirnya nama tersebut juga digunakan untuk penghargaan karya jurnalistik. Perjalanan itu menjadi sebuah kisah tentang kekuatan tulisan. Larangan menulis justru melahirkan nama baru. Nama baru melahirkan karya. Karya melahirkan pengaruh. Dan pengaruh kemudian menjadi warisan.

Dari Ruang Redaksi Menuju Pendidikan Pers

Adinegoro tidak sekadar menjadi wartawan yang menghasilkan ribuan halaman tulisan.

Ia membantu membangun ekosistem jurnalistik.

Ia memimpin media.

Ia bekerja di kantor berita.

Ia ikut membangun pendidikan jurnalistik.

Ia menulis buku.

Ia menghasilkan karya sastra.

Ia menyusun atlas dan ensiklopedia.

Semua itu menunjukkan bahwa pers baginya bukan hanya pekerjaan. Pers merupakan bagian dari pembangunan bangsa.

Sebuah negara merdeka membutuhkan masyarakat yang memperoleh informasi. Masyarakat yang mendapatkan informasi membutuhkan wartawan yang terdidik.

Wartawan yang baik membutuhkan pengetahuan luas, etika, dan kemampuan berpikir kritis. Adinegoro berusaha membangun ketiga unsur tersebut.

Warisan Sang Pelopor

Perjalanan Djamaluddin Adinegoro dimulai dari seorang pelajar STOVIA yang diam-diam ingin menulis. Karena aturan sekolah melarangnya, ia menciptakan sebuah nama samaran.

Dari nama itu lahir seorang wartawan. Dari wartawan itu lahir seorang pemimpin redaksi, sastrawan, pengajar, pemikir kebudayaan, dan perintis pendidikan jurnalistik.

Ia belajar di Jerman dan Belanda, menulis dari Eropa, memimpin Pewarta Deli, melewati masa pendudukan Jepang, ikut membangun pers Indonesia setelah kemerdekaan, dan mengabdi di kantor berita nasional.

Ia menulis Darah Muda dan Asmara Jaya, membawa kritik terhadap adat lama ke dalam sastra.

Ia menulis perjalanan melalui Melawat ke Barat.

Ia ikut dalam Polemik Kebudayaan.

Ia menyusun atlas berbahasa Indonesia dan membantu menghadirkan ensiklopedia bagi bangsa yang baru merdeka.

Ia juga ikut membangun pendidikan tinggi jurnalistik agar profesi wartawan tidak hanya mengandalkan pengalaman, tetapi juga pengetahuan.

Adinegoro memperlihatkan bahwa jurnalistik bukan semata-mata pekerjaan menulis kejadian hari ini. Jurnalistik membutuhkan sejarah, politik, geografi, kebudayaan, dan keberanian intelektual.

Wartawan harus memahami dunia agar mampu menjelaskannya kepada masyarakat. Itulah sebabnya nama Adinegoro tetap hidup setelah Djamaluddin wafat.

Nama itu menjadi simbol sebuah zaman ketika wartawan bukan hanya pencatat peristiwa, tetapi juga pendidik masyarakat dan pembangun kesadaran bangsa.

Dari seorang pemuda yang harus menyembunyikan identitas agar dapat menulis, Djamaluddin Adinegoro akhirnya dikenang sebagai salah satu pelopor terbesar jurnalistik Indonesia. (PERS)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |