Agustiar Syah Nur, Rektor Pertama Universitas Bung Hatta dan Pengabdi Pendidikan dari Sumatera Barat

4 hours ago 4

TOKOH - Prof. Dr. H. Agustiar Syah Nur, M.A. merupakan seorang pengajar dan akademisi Indonesia yang mengabdikan sebagian besar perjalanan hidupnya dalam dunia pendidikan. Lahir pada 10 Agustus 1936, namanya kemudian dikenal terutama karena dipercaya menjadi rektor pertama Universitas Bung Hatta di Padang, Sumatera Barat.

Ketika Universitas Bung Hatta didirikan pada 20 April 1981, Agustiar berada di antara tokoh yang mendapatkan tanggung jawab untuk meletakkan dasar kehidupan akademik perguruan tinggi tersebut. Ia dipercaya memimpin Universitas Bung Hatta sejak 1981 hingga 1985.

Tugas itu bukan sekadar menduduki jabatan rektor. Sebagai pemimpin pertama, ia berada pada masa ketika sebuah universitas baru harus mulai membangun identitas, tata kelola akademik, budaya pendidikan, dan kepercayaan masyarakat.

Setelah menyelesaikan masa kepemimpinannya, Agustiar tetap menjalani kehidupan sebagai pendidik. Ia kemudian dikenal sebagai guru besar di Universitas Negeri Padang dan terus mengabdikan diri di lingkungan akademik hingga tahun 2011.

Perjalanan intelektualnya juga tercermin dalam berbagai tulisan mengenai administrasi pendidikan, sistem pendidikan Indonesia dan negara lain, kepemimpinan adat Minangkabau, serta penyusunan kamus bahasa Inggris dan bahasa Indonesia.

Memilih Pendidikan sebagai Jalan Kehidupan

Dalam perjalanan hidupnya, Agustiar Syah Nur memilih dunia pendidikan sebagai ruang utama pengabdian. Ia tumbuh menjadi seorang akademisi pada masa ketika Indonesia masih terus membangun sistem pendidikannya.

Setelah kemerdekaan, salah satu tantangan besar bangsa adalah memperluas kesempatan belajar.

Perguruan tinggi harus berkembang.

Tenaga pengajar harus disiapkan.

Administrasi pendidikan harus diperkuat.

Sementara itu, kebutuhan masyarakat terhadap ilmu pengetahuan semakin meningkat. Dalam suasana pembangunan pendidikan seperti itulah perjalanan akademik Agustiar berkembang.

Ia tidak hanya tertarik kepada proses mengajar di dalam kelas.

Perhatiannya juga tertuju kepada bagaimana sebuah lembaga pendidikan dikelola.

Siapa yang memimpin?

Bagaimana administrator pendidikan memahami tugasnya?

Bagaimana sebuah sistem pendidikan berubah mengikuti kebutuhan masyarakat?

Pertanyaan seperti itu kemudian terlihat dalam karya-karya akademiknya.

Mempelajari Kebutuhan Para Pengelola Pendidikan

Salah satu karya awal yang dikaitkan dengan Agustiar adalah Managerial Needs and Awareness of the Educational Administrators in West Sumatra. Karya tersebut tercatat pada tahun 1980 dan 1984.

Dari judulnya terlihat bahwa Agustiar memberi perhatian pada kebutuhan manajerial para administrator pendidikan di Sumatera Barat.

Sebuah sekolah atau perguruan tinggi tidak hanya membutuhkan guru dan mahasiswa. Di dalamnya terdapat proses perencanaan, pengorganisasian, pengawasan, evaluasi, serta pengambilan keputusan.

Semua itu membutuhkan kemampuan manajemen. Seorang administrator pendidikan tidak cukup hanya memahami kurikulum. Ia harus mampu mengelola manusia, sumber daya, dan organisasi.

Perhatian Agustiar terhadap bidang tersebut menjadi penting ketika beberapa tahun kemudian ia sendiri dipercaya memimpin sebuah perguruan tinggi yang baru berdiri.

Pengetahuan tentang administrasi pendidikan tidak lagi hanya menjadi bahan kajian. Ia harus diterapkan secara langsung.

Berdirinya Universitas Bung Hatta

Pada 20 April 1981, Universitas Bung Hatta didirikan di Padang. Nama universitas tersebut diambil dari Mohammad Hatta, salah seorang Proklamator Kemerdekaan Indonesia yang berasal dari Sumatera Barat.

Berdirinya sebuah universitas selalu membawa harapan besar. Perguruan tinggi diharapkan menjadi tempat lahirnya generasi terdidik.

Di dalamnya mahasiswa memperoleh ilmu, dosen melakukan pengajaran, dan lingkungan akademik dibangun untuk melahirkan pemikiran baru.

Namun, universitas yang baru berdiri juga menghadapi tantangan.

Struktur organisasi harus dibentuk.

Sistem akademik harus berjalan.

Tenaga pengajar harus dikelola.

Mahasiswa membutuhkan pelayanan.

Hubungan dengan masyarakat harus dibangun.

Dalam masa awal itulah Agustiar Syah Nur dipercaya menjadi rektor pertama Universitas Bung Hatta.

Menjadi Rektor Pertama

Agustiar memimpin Universitas Bung Hatta sejak tahun 1981 hingga 1985. Menjadi rektor pertama memiliki arti yang berbeda dibandingkan memimpin perguruan tinggi yang telah lama berdiri.

Belum banyak tradisi yang diwariskan.

Belum ada pola kepemimpinan sebelumnya yang dapat sepenuhnya dijadikan acuan.

Banyak hal harus dirintis.

Rektor pertama harus membantu membentuk karakter lembaga yang dipimpinnya. Keputusan-keputusan pada masa awal dapat memberikan pengaruh panjang terhadap perjalanan universitas.

Karena itu, jabatan Agustiar pada periode tersebut menjadi bagian penting dalam sejarah Universitas Bung Hatta. Ia berada pada masa ketika perguruan tinggi itu mulai mencari tempat dalam lingkungan pendidikan tinggi Sumatera Barat.

Membangun Fondasi Sebuah Perguruan Tinggi

Masa kepemimpinan pertama sebuah universitas biasanya merupakan periode membangun fondasi. Bukan hanya gedung dan ruang perkuliahan, tetapi juga sistem.

Perguruan tinggi membutuhkan aturan akademik.

Program pendidikan harus berjalan.

Hubungan antara dosen dan mahasiswa perlu dibangun dalam budaya ilmiah.

Administrasi harus mampu mendukung kegiatan belajar.

Sebagai seorang yang memiliki perhatian terhadap manajemen pendidikan, posisi Agustiar menjadi sangat penting. Pengalaman dan pemikirannya mengenai administrasi pendidikan memberi landasan bagi tugas kepemimpinan tersebut.

Universitas membutuhkan pemimpin yang dapat melihat pendidikan bukan hanya dari satu kelas. Seorang rektor harus memahami keseluruhan lembaga.

Di satu sisi terdapat kebutuhan akademik. Di sisi lain terdapat organisasi, administrasi, sumber daya, serta harapan masyarakat.

Agustiar berada di tengah seluruh kebutuhan tersebut selama empat tahun pertama perjalanan Universitas Bung Hatta.

Menyerahkan Kepemimpinan kepada Generasi Berikutnya

Pada tahun 1985, masa kepemimpinan Agustiar Syah Nur sebagai rektor berakhir. Jabatan tersebut kemudian dilanjutkan oleh Drs. Adrin Kahar, Ph.D. (Hon), yang memimpin Universitas Bung Hatta hingga tahun 1990.

Pergantian kepemimpinan merupakan bagian penting dalam kehidupan perguruan tinggi. Sebuah universitas tidak dibangun oleh satu orang.

Setiap pemimpin menerima fondasi dari pendahulunya, kemudian mengembangkan lembaga sesuai kebutuhan zaman.

Agustiar meninggalkan posisinya sebagai rektor pertama setelah menjalankan fase awal pembentukan universitas.

Nama dirinya kemudian tetap melekat dalam sejarah Universitas Bung Hatta sebagai orang pertama yang memimpin perguruan tinggi tersebut.

Tetap Mengabdi sebagai Guru Besar

Setelah menyelesaikan tugas sebagai rektor Universitas Bung Hatta, Agustiar tidak meninggalkan dunia pendidikan. Ia melanjutkan pengabdian sebagai guru besar di Universitas Negeri Padang.

Di lingkungan perguruan tinggi, seorang guru besar memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menyampaikan materi perkuliahan. Ia menjadi bagian dari pengembangan ilmu.

Pengalaman akademik diteruskan kepada mahasiswa. Pemikiran dituangkan dalam karya. Diskusi dibangun untuk membantu generasi berikutnya memahami persoalan pendidikan secara lebih luas.

Agustiar terus mengajar hingga tahun 2011. Dengan demikian, perjalanan hidupnya memperlihatkan hubungan yang panjang dengan dunia pendidikan.

Ia pernah memimpin universitas.

Ia juga menjalani kehidupan sebagai pengajar.

Dua peran tersebut saling melengkapi. Sebagai rektor, ia memandang pendidikan dari tingkat lembaga. Sebagai guru besar, ia kembali berhadapan langsung dengan dunia akademik dan proses pembentukan pengetahuan.

Memandang Pendidikan sebagai Sebuah Sistem

Perhatian Agustiar terhadap pendidikan juga terlihat melalui karya Educational Systems and Change in Indonesia: A Look at Quantity Expansion yang terbit pada tahun 1988.

Judul tersebut memperlihatkan ketertarikannya pada perubahan sistem pendidikan Indonesia, khususnya dalam hubungan dengan perluasan jumlah peserta didik dan lembaga pendidikan.

Ketika jumlah penduduk meningkat, kebutuhan terhadap sekolah dan perguruan tinggi ikut meningkat. Pemerintah harus menyediakan lebih banyak ruang belajar.

Tenaga pengajar harus ditambah. Sistem administrasi juga harus mampu mengikuti pertumbuhan tersebut.

Namun, perluasan pendidikan tidak hanya berkaitan dengan jumlah. Pertanyaan yang lebih besar adalah bagaimana menjaga mutu ketika akses pendidikan semakin luas.

Agustiar melihat pendidikan sebagai sebuah sistem. Apabila satu bagian berkembang, bagian lain harus ikut menyesuaikan. Meningkatkan jumlah siswa tanpa meningkatkan jumlah guru dapat menimbulkan masalah.

Membuka sekolah tanpa sistem administrasi yang memadai juga dapat memengaruhi kualitas. Karena itu, perubahan pendidikan membutuhkan perencanaan.

Membandingkan Sistem Pendidikan Berbagai Negara

Perhatiannya terhadap pendidikan kemudian dituangkan dalam buku Perbandingan Sistem Pendidikan 15 Negara yang diterbitkan pada tahun 2001.

Melalui pendekatan perbandingan, sistem pendidikan tidak hanya dipahami dari pengalaman Indonesia. Negara lain dapat menjadi bahan pembelajaran.

Setiap negara memiliki cara yang berbeda dalam mengelola sekolah, menyiapkan guru, menyusun kurikulum, membiayai pendidikan, dan mengatur hubungan antara pemerintah dengan lembaga pendidikan.

Membandingkan tidak berarti menyalin. Sistem yang berhasil di satu negara belum tentu dapat diterapkan secara langsung di negara lain.

Setiap masyarakat memiliki sejarah, budaya, ekonomi, dan struktur pemerintahan sendiri. Namun, pengalaman negara lain dapat memberikan perspektif.

Dari perbandingan tersebut, kelemahan dan kekuatan sistem sendiri dapat terlihat dengan lebih jelas. Karya tersebut memperlihatkan bahwa perhatian Agustiar terhadap pendidikan tidak berhenti pada Sumatera Barat. Ia melihat persoalan pendidikan dalam konteks yang lebih luas.

Seorang Akademisi yang Juga Menekuni Bahasa

Menariknya, karya Agustiar tidak hanya berbicara mengenai administrasi dan sistem pendidikan.

Pada tahun 1990, namanya tercatat dalam dua karya bahasa, yakni Advanced Indonesian-English Dictionary dan Advanced English-Indonesian Dictionary.

Kehadiran dua kamus tersebut memperlihatkan sisi lain dari perjalanan intelektualnya. Bahasa merupakan alat utama dalam pendidikan. Pengetahuan berpindah melalui bahasa. Mahasiswa membaca, menulis, dan berdiskusi menggunakan bahasa.

Dalam hubungan internasional, penguasaan bahasa asing juga membuka akses terhadap buku, penelitian, dan komunikasi dengan dunia akademik yang lebih luas. Kamus memiliki fungsi sebagai jembatan.

Sebuah kata dalam bahasa Indonesia harus ditemukan padanannya dalam bahasa Inggris. Demikian pula istilah bahasa Inggris harus dapat dipahami oleh pembaca Indonesia.

Pekerjaan semacam itu membutuhkan ketelitian. Satu kata dapat memiliki banyak makna tergantung konteksnya. Karena itu, penyusunan kamus bukan sekadar menerjemahkan secara harfiah.

Menghubungkan Bahasa dengan Pendidikan

Keterlibatan Agustiar dalam penyusunan kamus dapat dilihat sebagai bagian dari perhatian besarnya terhadap pendidikan.

Pada masa ketika akses terhadap sumber berbahasa Inggris semakin penting, kamus menjadi alat bantu yang sangat dibutuhkan mahasiswa dan pelajar.

Buku ilmiah, jurnal, dan berbagai sumber pengetahuan internasional banyak diterbitkan dalam bahasa Inggris. Tanpa kemampuan memahami bahasa tersebut, akses terhadap pengetahuan menjadi terbatas.

Sebaliknya, kemampuan menerjemahkan gagasan Indonesia ke bahasa Inggris membantu membuka komunikasi dengan dunia luar. Dengan demikian, karya kamus melengkapi perhatian Agustiar pada pendidikan. Ia tidak hanya membahas lembaga dan sistem, tetapi juga salah satu alat dasar dalam proses belajar: bahasa.

Kembali kepada Akar Minangkabau

Selain pendidikan dan bahasa, Agustiar juga memberikan perhatian terhadap kehidupan adat Minangkabau.

Hal itu terlihat dalam karya Kredibilitas Penghulu dalam Kepemimpinan Adat Minangkabau, yang tercatat diterbitkan pada tahun 1999 dan 2002.

Tema tersebut memperlihatkan pertemuan antara kehidupan akademik modern dengan tradisi lokal.

Dalam masyarakat Minangkabau, penghulu memiliki posisi penting dalam struktur adat. Ia bukan sekadar pemegang gelar. Penghulu menjalankan fungsi kepemimpinan dalam kaum dan kehidupan masyarakat. Karena itu, kredibilitas menjadi unsur penting.

Seorang pemimpin adat harus memperoleh kepercayaan. Kepemimpinan tidak hanya ditentukan oleh gelar, tetapi juga oleh perilaku, kemampuan, dan hubungan dengan masyarakat.

Dengan meneliti kredibilitas penghulu, Agustiar memasuki wilayah kepemimpinan sosial yang berbeda dari kepemimpinan universitas. Namun, keduanya memiliki benang merah. Baik rektor maupun penghulu sama-sama membutuhkan kepercayaan.

Kepemimpinan tidak dapat berjalan hanya melalui jabatan. Ia membutuhkan legitimasi dari orang-orang yang dipimpin.

Antara Kepemimpinan Akademik dan Kepemimpinan Adat

Pengalaman Agustiar sebagai rektor mungkin membuat persoalan kepemimpinan menjadi sesuatu yang dekat dengan pemikirannya.

Dalam universitas, seorang pemimpin harus mampu mengelola dosen, mahasiswa, dan tenaga administrasi.

Dalam masyarakat adat, seorang penghulu harus mampu menjaga hubungan dalam kaum serta menjalankan tanggung jawab berdasarkan nilai-nilai adat.

Konteks keduanya berbeda. Namun prinsip kepemimpinan memiliki kesamaan tertentu.

Kepercayaan harus dijaga.

Keputusan harus memiliki dasar.

Pemimpin harus mampu berkomunikasi.

Ia juga harus memahami masyarakat yang dipimpinnya.

Karya mengenai penghulu menunjukkan bahwa perhatian Agustiar tidak hanya kepada sistem pendidikan modern, tetapi juga terhadap bagaimana masyarakat Minangkabau membangun struktur kepemimpinan berdasarkan tradisinya sendiri.

Akademisi dengan Bidang Kajian yang Luas

Jika dilihat dari daftar karyanya, Agustiar Syah Nur memiliki cakupan perhatian yang cukup beragam.

Ia menulis mengenai administrator pendidikan.

Ia membahas perubahan sistem pendidikan Indonesia.

Ia menyusun karya kamus Indonesia–Inggris dan Inggris–Indonesia.

Ia meneliti kepemimpinan adat Minangkabau.

Ia juga membandingkan sistem pendidikan berbagai negara.

Bidang-bidang tersebut terlihat berbeda, tetapi memiliki hubungan dalam perjalanan seorang pendidik.

Administrasi membicarakan bagaimana lembaga bekerja.

Bahasa menjadi alat untuk belajar.

Kepemimpinan membahas bagaimana manusia mengelola organisasi dan masyarakat.

Perbandingan pendidikan membantu melihat bagaimana negara lain menyelesaikan persoalan serupa.

Semua itu menunjukkan cara pandang yang luas terhadap pendidikan.

Pendidikan tidak hanya berlangsung ketika seorang dosen berdiri di depan mahasiswa.

Ia juga berlangsung melalui sistem, bahasa, lembaga, kepemimpinan, dan kebudayaan.

Pengabdian yang Berlangsung hingga Akhir Hayat

Agustiar Syah Nur terus dikenal sebagai guru besar di Universitas Negeri Padang hingga tahun 2011. Tahun tersebut juga menjadi tahun terakhir dalam perjalanan hidupnya.

Pada 31 Januari 2011, Prof. Dr. H. Agustiar Syah Nur, M.A. meninggal dunia. Ia wafat pada usia 74 tahun, beberapa bulan sebelum ulang tahunnya yang ke-75.

Kepergiannya mengakhiri perjalanan panjang seorang akademisi yang telah melewati berbagai fase perkembangan pendidikan Indonesia. Ia pernah hidup pada masa ketika perguruan tinggi masih jauh lebih sedikit dibandingkan sekarang.

Kemudian ia menyaksikan pendidikan tinggi berkembang. Universitas baru berdiri. Jumlah mahasiswa meningkat. Sistem pendidikan terus berubah.

Dan selama perjalanan tersebut, Agustiar berada di dalamnya sebagai pengajar, penulis, peneliti, guru besar, serta pemimpin perguruan tinggi.

Nama yang Melekat pada Sejarah Universitas Bung Hatta

Dari berbagai jabatan yang pernah dijalaninya, posisi sebagai rektor pertama Universitas Bung Hatta memiliki tempat tersendiri.

Seorang rektor pertama selalu menjadi bagian dari sejarah awal sebuah perguruan tinggi.

Ketika universitas berkembang puluhan tahun kemudian, nama pemimpin pertamanya tetap tercatat sebagai bagian dari proses perintisan.

Agustiar memimpin pada periode 1981–1985. Masa tersebut menjadi empat tahun pertama perjalanan Universitas Bung Hatta. Ia berada pada titik ketika institusi itu baru mulai berdiri dan membutuhkan fondasi untuk berkembang. Kemudian kepemimpinan diteruskan kepada Drs. Adrin Kahar, Ph.D. (Hon).

Dari satu periode ke periode berikutnya, Universitas Bung Hatta terus bertumbuh. Namun titik awalnya tetap menjadi bagian penting dalam ingatan kelembagaan. Di titik itulah nama Agustiar Syah Nur berada.

Warisan Seorang Pendidik

Prof. Dr. H. Agustiar Syah Nur, M.A. meninggalkan jejak terutama melalui dunia pendidikan. Ia bukan hanya seseorang yang pernah menjabat rektor. Ia adalah akademisi yang mencoba memahami pendidikan dari berbagai sisi.

Dari kebutuhan para administrator sekolah dan perguruan tinggi, ia melihat pentingnya manajemen. Dari perubahan sistem pendidikan Indonesia, ia mempelajari persoalan perluasan akses. Dari sistem pendidikan 15 negara, ia membuka ruang perbandingan.

Melalui kamus Indonesia–Inggris dan Inggris–Indonesia, ia membantu menjembatani bahasa sebagai sarana pendidikan.

Melalui kajian tentang kredibilitas penghulu, ia membawa perhatian akademiknya kepada kepemimpinan adat Minangkabau.

Semua itu membentuk gambaran seorang pendidik yang tidak membatasi dirinya hanya pada ruang kuliah. Baginya, pendidikan adalah sebuah dunia yang luas. Di dalamnya terdapat manusia, sistem, organisasi, bahasa, kebudayaan, dan kepemimpinan.

Dari ruang akademik Universitas Negeri Padang hingga masa awal berdirinya Universitas Bung Hatta, perjalanan Agustiar Syah Nur menjadi bagian dari sejarah pendidikan tinggi di Sumatera Barat.

Namanya terutama dikenang sebagai rektor pertama sebuah universitas yang baru lahir pada 1981. Namun warisan seorang pendidik tidak hanya tersimpan dalam jabatan.

Warisan itu hidup melalui mahasiswa yang pernah belajar, karya yang pernah ditulis, lembaga yang pernah dipimpin, dan gagasan yang terus dibaca oleh generasi setelahnya.

Itulah perjalanan Agustiar Syah Nur: seorang pengajar yang menempatkan pendidikan bukan sekadar sebagai profesi, melainkan sebagai pengabdian panjang sepanjang hidupnya. (PERS)

Read Entire Article
Karya | Politics | | |